Perempuan Indonesia hari ini tidak lagi kekurangan ruang. Mereka hadir di kampus, kantor, ruang publik, dan media sosial. Namun, kehadiran itu sering kali disertai tuntutan untuk selalu tangguh, adaptif, dan serba mampu. Perempuan dipuji ketika berhasil menjalankan banyak peran sekaligus, tetapi jarang ditanya apakah sistem di sekitarnya sudah adil. Di titik inilah persoalan perempuan tidak berhenti pada soal kesempatan, melainkan beralih pada beban yang terus bertambah.
Data Badan Pusat Statistik mencatat peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan dan dunia kerja. Namun, aktivis perempuan dan penulis buku Sex, Power, Nations, Julia Suryakusuma, menegaskan bahwa partisipasi tidak identik dengan kesetaraan. Perempuan masuk ke ruang publik tanpa pernah benar benar dibebaskan dari tanggung jawab domestik. Ketika perempuan bekerja, ia tetap diharapkan menjadi pengelola rumah tangga. Ketika ia lelah, kegagalan itu dianggap sebagai kelemahan personal, bukan masalah struktur sosial.
Di dunia kerja, ketimpangan itu semakin terlihat. International Labour Organization menunjukkan bahwa kesenjangan upah berbasis gender masih terjadi, sementara perempuan lebih banyak berada di sektor informal dan pekerjaan dengan perlindungan rendah. Profesor Tadjuddin Noer Effendi yang berasal dari Universitas Gadjah Mada menyebut bahwa sistem kerja di Indonesia dibangun dengan asumsi pekerja ideal adalah laki laki yang tidak memiliki beban pengasuhan. Dalam kondisi ini, perempuan dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem yang sejak awal tidak dirancang untuknya.
Tekanan terhadap perempuan tidak berhenti di ranah ekonomi. Media dan budaya populer menciptakan standar kesempurnaan yang kontradiktif. Perempuan dituntut mandiri, tetapi tidak boleh terlalu ambisius. Cerdas, tetapi tetap menyenangkan. Kuat, tetapi tidak boleh dianggap melawan. Psikolog sosial Universitas Indonesia menyebut tekanan semacam ini sebagai beban psikologis berlapis yang berdampak pada kesehatan mental perempuan muda, terutama di era media digital.
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Prof. Siti Ruhaini Dzuhayatin, menilai bahwa perempuan masih diposisikan sebagai penjaga harmoni sosial. Peran ini membuat perempuan diharapkan selalu mengalah demi kestabilan keluarga dan lingkungan. Akibatnya, banyak ketidakadilan dibungkus sebagai pengorbanan mulia. Perempuan yang mempertanyakan beban tersebut kerap dianggap tidak bersyukur atau terlalu menuntut.
Meski demikian, perubahan sedang berlangsung. Kesadaran perempuan terhadap hak, kesehatan mental, dan batas personal semakin menguat. Peneliti BRIN mencatat meningkatnya gerakan berbasis komunitas yang mendorong perempuan untuk bernegosiasi dengan peran sosialnya. Namun, kesadaran individu tidak cukup jika sistem tetap membiarkan perempuan menanggung beban sendirian.
Perempuan tidak sedang meminta untuk dipuji karena kuat. Mereka menuntut sistem yang tidak terus menguji kekuatannya. Ukuran kemajuan tidak seharusnya dilihat dari seberapa banyak peran yang bisa dipikul perempuan, melainkan seberapa adil pembagian peran itu sendiri. Selama perempuan terus diminta bertahan tanpa perubahan struktural, kemajuan hanya akan menjadi cerita tentang kelelahan yang dinormalisasi.
#perempuan #hak #indonesia #wanita #sosial

