SUKOHARJO – Isu pelestarian lingkungan dan pelestarian budaya seringkali dipandang sebagai dua ranah yang maskulin. Namun, di Kabupaten Sukoharjo, sebuah terobosan kebudayaan lahir dengan menempatkan perempuan dan kelompok marginal sebagai aktor utama penggerak perubahan. Mengusung tajuk “Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam Dan Budaya” , program ini hadir sebagai oase ruang aman dan inklusif bagi anak-anak dan remaja perempuan, termasuk mereka yang menyandang disabilitas.
Gerakan inovatif yang diinisiasi oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan (Dana Indonesiana) pada Program Layanan Produksi Media Kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Tahun 2025.
Lebih dari sekadar penciptaan karya seni dari daur ulang sampah, program ini dirancang sebagai panggung pemberdayaan. Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, dalam wawancaranya menegaskan bahwa ruh dari keberhasilan program inklusi ini tidak lepas dari sentuhan, empati, dan kepemimpinan perempuan di berbagai lini kepanitiaan dan fasilitator.
“Dalam kebudayaan kita, bumi sering disebut sebagai ‘Ibu Pertiwi’. Maka, sangat relevan jika perempuan mengambil peran terdepan dalam upaya merawatnya. Melalui program Topeng Wayang Limbah Kertas ini, kami mendobrak stigma bahwa seni pertunjukan tradisional dan kerja-kerja ekologis yang kotor dengan sampah hanya didominasi laki-laki. Di sini, anak-anak perempuan, para fasilitator perempuan, hingga pendamping disabilitas bahu-membahu meremas bubur kertas, mencetak topeng, dan menyusun narasi,” ungkap Fadhel.
Fadhel menyoroti secara khusus bagaimana ruang kolaborasi ini dirancang sangat ramah bagi anak-anak perempuan dan teman-teman difabel. Pendekatan partisipatif yang diterapkan membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan intuisi pengasuhan, kualitas yang banyak digerakkan oleh para relawan dan koordinator perempuan dalam tim. Mereka memastikan setiap anak, terlepas dari kondisi fisik maupun latar belakang sosialnya, memiliki hak suara dan ruang berekspresi yang mutlak setara.
“Melihat remaja perempuan dan anak-anak difabel duduk satu meja, saling membantu mewarnai topeng fabel dan merancang skenario pertunjukan teater, adalah pemandangan yang mendobrak batasan patriarki. Mereka tidak hanya sedang mendaur ulang limbah kertas, tetapi juga sedang mendaur ulang konstruksi sosial di masyarakat kita yang seringkali meminggirkan peran mereka,” lanjut Fadhel.
Mengenai harapan ke depan menjelang pementasan publiknya, Fadhel menegaskan bahwa panggung kesenian ini didedikasikan untuk menyuarakan perspektif mereka yang selama ini kerap tak terdengar.
“Pementasan publik yang akan kami gelar nanti adalah manifestasi dari kekuatan inklusivitas. Harapan terbesar kami, karya-karya ini menjadi bukti nyata bahwa ketika perempuan dan kelompok rentan diberi ruang, kepercayaan, dan akses, seperti yang difasilitasi oleh Dana Indonesiana, mereka mampu melahirkan mahakarya inovatif yang menyelamatkan lingkungan sekaligus menjaga napas kebudayaan bangsa. Kami ingin anak-anak perempuan di luar sana melihat panggung ini dan menyadari bahwa suara serta karya mereka sangat berharga untuk mengubah dunia,” pungkas Fadhel optimis.

