Banyak anak perempuan yang dididik untuk menjadi “nice girl” sejak kecil, kata itu diartikan sebagai symbol yang penurut, manis, dan akomodatif. Tindakan “Menolak” dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan atau egois.
Ada pula istilah “The Nuruturer Instinct” yaitu adanya konstruksi sosial bahwa peran utama perempuan adalah merawat dan mendahului kepentingan orang lain (people pleaser). Kekhawatiran bahwa jika kita berkata “Tidak” kita akan dianggap tidak kompeten, tidak membantu, atau akan dijauhi secara sosial.
Dalam buku The Nice Girl Syndrome oleh Beverly Angel menjelaskan bahwa budaya seringkali memberikan imbalan kepada anak perempuan yang pasif dan akomodatif. Akibatnya, saat dewasa, perempuan merasa bahwa menetapkan batasan adalah bentuk pengkhianatan terhadap identitas “orang baik” mereka.
Kecenderungan untuk selalu berkata “ya” juga diperkuat oleh beban kerja emosional (emotional labor) yang secara tidak sadar dipikul perempuan. Sosiolog Allison Daminger mengungkapkan bahwa perempuan memikul beban kognitif lebih besar untuk mengantisipasi kebutuhan orang lain, sebuah kondisi yang membuat penolakan terasa seperti kegagalan dalam menjaga keharmonisan.
Secara biologis hal ini dipersulit oleh teori Tend-abd-Befried dari Shelley Taylor, yang menjelaskan bahwa perempuan memiliki kecenderungan alami untuk memelihara hubungan saat berada dibawah tekanan. Inilah alasan mengapa rasa bersalah muncul begitu kuat, karena secara insting dan sosial, perempuan mearsa bertanggung jwab atas kenyamanan orang-orang disekitarnya.
Namun, ketidakmampuan untuk berkata “tidak” memiliki harga yang mahal. Laporan Women in the Workplace dari McKinsey & Company secara konsisten menunjukkan bahwa perempuan mengalami tingkat burnout yang lebih tinggi akibat beban tambahan yang sulit mereka tolak. Menetapkan batasan bukanlah bentuk kekejaman, melainkan bentuk pertahanan diri. Belajar berkata “tidak” tanpa diikuti penjelasan panjang adalah langkah awal untuk merebut kembali kendali atas waktu dan energi kita, karena pada akhirnya, kita tidak bisa memberikan yang terbaik bagi dunia jika kita sendiri sedang mengalami kekosongan emosional.
Lalu, bagaimana cara mengatasi rasa bersalah ketika berkata “Tidak”?
- Ubah Pola Pikir: Sadari bahwa berkata “tidak” pada orang lain adalah cara berkata “ya” pada diri sendiri dan kesehatan mental Anda. Batasan (boundaries) bukan tentang kekejaman, tapi tentang menjaga kapasitas diri.
- Gunakan Teknik Jeda: Jangan terburu-buru menjawab. Katakan, “Saya cek jadwal dulu ya,” untuk memberi ruang bagi logika berpikir tanpa tekanan emosional.
- Tegas Tanpa Penjelasan Berlebih: Sampaikan penolakan secara jujur dan sopan tanpa perlu memberi alasan yang terlalu panjang. Penjelasan yang berbelit justru membuat Anda terlihat ragu.
- Mulai dari Hal Kecil: Latih “otot” batasan Anda pada situasi rendah risiko, seperti menolak tawaran membership di kasir atau ajakan telepon saat sibuk.
- Terima Rasa Tidak Nyaman: Rasa bersalah di awal adalah hal wajar karena Anda sedang membongkar kebiasaan lama. Biarkan rasa itu ada tanpa harus mengubah keputusan Anda.
- Pisahkan Diri dari Reaksi Orang Lain: Ingat bahwa tugas Anda adalah menyampaikan batasan dengan sopan, sedangkan bagaimana orang lain bereaksi adalah tanggung jawab emosional mereka sendiri.
Pada akhirnya, menetapkan batasan bukan tentang membangun dinding untuk menjauhkan orang lain, melainkan tentang membangun rumah yang aman bagi diri sendiri. Ingatlah bahwa Anda tidak perlu terus-menerus ‘mengosongkan gelas’ Anda hanya untuk mengisi gelas orang lain. Berani berkata ‘tidak’ adalah bentuk tertinggi dari menghargai diri sendiri.

