JAKARTA — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti pentingnya komunikasi dalam keluarga sebagai benteng pertama pencegahan kekerasan terhadap anak.
Menurut Arifah, banyak kasus kekerasan terhadap anak tidak terungkap sejak awal karena korban memilih menyimpan sendiri pengalaman yang dialaminya. Akibatnya, orang tua sering kali tidak mengetahui kondisi yang sebenarnya sedang dihadapi anak.
“Risikonya ada di keluarga, karena banyak sekali orang tua yang tidak tahu kalau anaknya mengalami kekerasan, karena anaknya tidak curhat,” ujar Arifah usai Penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) Program Percontohan Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu bagi Perempuan dan Anak di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Arifah mengungkapkan, temuan tersebut diperkuat oleh hasil survei yang melibatkan lebih dari 20 ribu anak. Dalam survei itu, hanya sekitar 20 persen anak yang mengaku akan bercerita kepada orang tua ketika menghadapi masalah.
“Ada satu pertanyaan yang membuat saya menjadi perhatian. Kalau kalian ada masalah, kalian akan curhat ke siapa? Hanya sekitar 20 persen yang menjawab kepada orang tua, sementara sebagian besar memilih curhat kepada teman,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi refleksi bersama. Sebab, keluarga seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak untuk menyampaikan keluh kesah, termasuk ketika mengalami kekerasan atau tekanan psikologis.
“Ada apa dengan keluarga kita sehingga anak ini tidak bisa terbuka kepada orang tuanya?” lanjutnya.
Arifah menilai penguatan keluarga menjadi langkah paling mendasar dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Selain memperkuat layanan perlindungan, upaya membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak juga perlu terus didorong.
Ia mengingatkan bahwa kekerasan dapat terjadi kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Karena itu, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga keluarga sebagai lingkungan terdekat anak.
“Kalau kesadaran ini tumbuh dari diri sendiri dan diperkuat dalam keluarga, maka kita berharap kekerasan tidak terjadi kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun,” pungkasnya.

