Depok – Selama bertahun-tahun, banyak penelitian tentang perempuan lahir dari sudut pandang akademik. Namun, tidak banyak yang berangkat dari pertanyaan sederhana: mengapa pengalaman perempuan sering kali dianggap sekadar cerita pribadi, bukan pengetahuan?
Pertanyaan itulah yang membawa Moh. Faiz Maulana, dosen sekaligus Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), mempertahankan disertasi doktoralnya di bidang Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Menariknya, Faiz adalah seorang laki-laki.
Alih-alih berbicara atas nama perempuan, ia justru memilih mendengarkan bagaimana perempuan menceritakan pengalaman mereka sendiri melalui tulisan.
Ruang itu ditemukannya di Komunitas Puan Menulis, sebuah komunitas literasi yang menjadi wadah bagi perempuan dari berbagai latar belakang untuk menuliskan pengalaman hidup mereka. Mulai dari pengasuhan anak, pekerjaan domestik, relasi keluarga, kesehatan reproduksi, politik tubuh, hingga kekerasan seksual, pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi yang kemudian dibaca, didiskusikan, dan dimaknai bersama.
Dalam disertasinya yang berjudul “Menceritakan Pengalaman, Menuliskan Pengetahuan: Pengembangan Epistemik dan Produksi Pengetahuan Feminis di Komunitas Puan Menulis”, Faiz meneliti praktik menulis yang dilakukan para anggota komunitas tersebut.
Ia menemukan bahwa tulisan tentang kehidupan sehari-hari perempuan kerap dipandang sebagai pengalaman personal yang tidak memiliki nilai intelektual.
Padahal, menurutnya, dari pengalaman-pengalaman itulah perempuan sesungguhnya sedang membaca, memahami, dan menjelaskan kehidupan sosial.
“Selama ini perempuan merasa mengalami itu sendiri. Tapi bagaimana kalau itu diceritakan dengan tulisan, maka perempuan yang lain bisa membaca tulisan itu dan merasakan bahwa ada situasi yang sama,” ujar Faiz saat memaparkan disertasinya dalam sidang promosi doktor, Senin (20/7/2026).
Bagi Faiz, menulis bukan sekadar aktivitas literasi.
Menulis menjadi ruang bagi perempuan untuk memberi nama pada pengalaman mereka, menemukan bahwa persoalan yang dihadapi bukan semata persoalan individu, melainkan berkaitan dengan struktur sosial yang lebih luas.
Penelitian itu juga memperlihatkan bagaimana tulisan mampu membangun solidaritas.
Di Komunitas Puan Menulis, kisah-kisah yang semula terasa sangat personal berubah menjadi ruang berbagi pengalaman. Ketika satu perempuan menuliskan kegelisahannya, perempuan lain dapat mengenali dirinya dalam cerita tersebut.
Dari situlah lahir kesadaran bahwa mereka tidak sedang menghadapi persoalan seorang diri.
Berbagai tulisan yang lahir dari komunitas itu juga memperlihatkan bagaimana perempuan melakukan pembacaan kritis terhadap norma dan struktur sosial yang membentuk kehidupan mereka. Tema-tema seperti politik tubuh, kesehatan reproduksi, standar kecantikan, perkawinan, kelajangan, tafsir keagamaan, hingga relasi gender menunjukkan bahwa pengalaman perempuan bukan sekadar kisah keseharian, melainkan cara memahami realitas sosial.
Bagi Faiz, penelitian ini bukan tentang menghadirkan suara perempuan melalui dirinya sebagai peneliti.
Sebaliknya, penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan sesungguhnya telah memiliki suara, pengalaman, dan cara mereka sendiri dalam memahami dunia. Yang selama ini sering kali kurang bukanlah pengalaman itu sendiri, melainkan pengakuan bahwa pengalaman tersebut juga merupakan pengetahuan.
Barangkali, temuan paling penting dari penelitian ini bukanlah bahwa perempuan mulai menulis. Perempuan telah lama bercerita tentang hidupnya. Yang berubah adalah cara kita memandang cerita-cerita itu. Ketika pengalaman perempuan tidak lagi dianggap sekadar “curhat”, melainkan diakui sebagai pengetahuan, saat itulah suara yang selama ini berada di pinggir mulai menemukan tempatnya di pusat percakapan. Dan mungkin, di sanalah perubahan benar-benar dimulai.







