• Hubungi Redaksi
Kirim Tulisan
Akun Saya
Logout
Media Wanita
Kirim Tulisan
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Media Wanita
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Media Wanita
No Result
View All Result
Home Opini

Mengapa Perempuan Harus Menjelaskan Pilihannya?

Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan by Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
29 July 2026
in Opini
A A
0
852
SHARES
1.2k
VIEWS

Suatu sore, seorang perempuan duduk bersama keluarganya.

Obrolannya sederhana. Tentang pekerjaan. Tentang kabar terbaru. Tentang kehidupan sehari-hari.

Lalu sebuah pertanyaan muncul.

“Kapan menikah?”

Ia tersenyum kecil.

Bukan karena pertanyaan itu selalu mudah dijawab, tetapi karena ia sudah terlalu sering mendengarnya.

Sebelum sempat menjelaskan, pertanyaan lain datang.

“Kenapa masih sibuk bekerja?”

“Tidak ingin punya anak?”

“Kenapa memilih jalan seperti itu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian.

Namun, bagi banyak perempuan, pertanyaan semacam itu menyimpan pesan yang lebih dalam: hidup mereka seolah selalu berada dalam ruang penilaian.

Ada standar yang harus dipenuhi. Ada batas yang harus dijaga. Ada pilihan yang harus dijelaskan.

Seolah-olah menjadi perempuan berarti harus terus memberikan alasan atas keputusan hidupnya sendiri.

Menariknya, tidak semua orang menghadapi tuntutan yang sama.

Seorang laki-laki yang fokus membangun karier sering disebut memiliki ambisi.

Seorang perempuan yang melakukan hal serupa terkadang ditanya kapan akan “menyelesaikan” urusan pribadinya.

Seorang laki-laki yang memilih hidup sendiri sering dianggap mandiri.

Seorang perempuan dengan pilihan yang sama sering dianggap perlu diberi nasihat.

Masalahnya bukan pada pertanyaannya semata.

Masalahnya adalah mengapa kehidupan perempuan begitu sering dianggap sebagai sesuatu yang boleh dikomentari.

Sejak lama, masyarakat memiliki gambaran tertentu tentang perempuan ideal.

Perempuan yang baik adalah perempuan yang peduli.

Perempuan yang baik adalah perempuan yang mengutamakan keluarga.

Perempuan yang baik adalah perempuan yang mampu menjaga keharmonisan.

Nilai-nilai tersebut tidak sepenuhnya buruk. Kepedulian, kasih sayang, dan tanggung jawab memang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial.

Namun, persoalan muncul ketika nilai tersebut berubah menjadi aturan yang membatasi.

Ketika satu bentuk kehidupan dianggap paling benar.

Ketika perempuan yang memilih jalan berbeda harus memberikan penjelasan lebih panjang dibandingkan orang lain.

Di titik itulah pilihan pribadi berubah menjadi persoalan sosial.

Sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa banyak hal dalam kehidupan masyarakat terbentuk melalui proses sosial yang panjang. Sesuatu yang terus dilakukan, dipercaya, dan diwariskan akhirnya terlihat seperti sesuatu yang alami.

Padahal, ia merupakan hasil konstruksi sosial.

Begitu pula dengan gambaran tentang perempuan ideal.

Ia tidak lahir begitu saja.

Ia dibentuk melalui keluarga, budaya, pendidikan, agama, media, dan berbagai lingkungan sosial yang terus memberi pesan tentang bagaimana perempuan seharusnya hidup.

Karena terlalu lama diulang, standar tersebut sering tidak lagi dipertanyakan.

Ia dianggap sebagai kebenaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, kontrol terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk larangan.

Kadang ia hadir melalui pertanyaan. Melalui komentar. Melalui candaan. Melalui kalimat yang terdengar sederhana:

“Kok belum?”

“Kenapa begitu?”

“Memangnya tidak takut?”

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut kondisi semacam ini sebagai kekerasan simbolik. Kekerasan tidak selalu berbentuk tindakan kasar. Ia dapat bekerja melalui norma, kebiasaan, dan cara berpikir yang membuat seseorang merasa harus mengikuti aturan tertentu.

Ketika perempuan mulai merasa bersalah karena memilih jalan hidup yang berbeda, di situlah kontrol sosial bekerja.

Bukan karena ada hukuman resmi.

Melainkan karena ada rasa takut terhadap penilaian.

Perempuan hari ini hidup dalam situasi yang penuh paradoks.

Mereka didorong untuk berpendidikan. Didorong untuk mandiri. Didorong untuk memiliki cita-cita.

Tetapi pada saat yang sama, mereka masih sering diminta menyesuaikan diri dengan ukuran lama tentang bagaimana perempuan seharusnya hidup.

Masyarakat ingin perempuan berkembang, tetapi sering kali masih ingin menentukan arah perkembangannya.

Masyarakat ingin perempuan bebas, tetapi kebebasan itu sering diberikan dengan syarat:

Boleh memilih, selama pilihannya tidak terlalu berbeda.

Tentu, perhatian keluarga dan lingkungan bukan sesuatu yang salah.

Manusia memang hidup dalam hubungan sosial. Kita saling peduli, saling mengingatkan, dan saling memberi masukan.

Namun, ada perbedaan besar antara menemani seseorang menjalani hidupnya dan merasa berhak menentukan hidup seseorang.

Sebab setiap perempuan memiliki cerita yang tidak selalu terlihat.

Ada perjuangan yang tidak diketahui.

Ada pertimbangan yang tidak pernah diceritakan.

Ada keputusan yang diambil setelah melewati perjalanan panjang.

Kirim Tulisan

Apa yang tampak sederhana dari luar, bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat berat bagi seseorang.

Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat perempuan.

Bukan lagi bertanya:

“Kapan kamu mengikuti jalan yang dianggap benar?”

Tetapi:

“Apa yang membuat jalan yang kamu pilih memiliki arti?”

Sebab perempuan bukan sekadar peran yang disiapkan masyarakat.

Ia bukan hanya seseorang yang harus memenuhi harapan orang lain.

Ia adalah manusia dengan pengalaman, kehendak, dan hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.

Dan mungkin, penghormatan paling sederhana kepada perempuan bukanlah memberi lebih banyak nasihat tentang bagaimana ia harus hidup.

Melainkan memberi ruang agar ia dapat menjalani hidupnya tanpa terus-menerus diminta menjelaskan mengapa ia memilih menjadi dirinya sendiri.

    Tags: Perempuanpilihan
    Share341Tweet213Share60Pin77SendShare
    Kirim Tulisan
    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan atau pemilik nama pena Faqod Faaz percaya bahwa setiap manusia menyimpan cerita yang layak didengar. Mahasiswa Sosiologi Unusia ini menulis tentang perempuan, keluarga, pendidikan, dan berbagai wajah kehidupan sosial yang sering luput diperhatikan. Aktif sebagai redaktur Katasulsel.com dan kontributor NU Online serta sejumlah media digital. Jejaknya dapat ditelusuri melalui Instagram @difaatimah_13 dan @faq_odfaaz.

    Please login to join discussion

    Terbaru

    Opini

    Mengapa Perempuan Harus Menjelaskan Pilihannya?

    by Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
    29 July 2026
    0

    Suatu sore, seorang perempuan duduk bersama keluarganya. Obrolannya sederhana. Tentang pekerjaan. Tentang kabar terbaru. Tentang kehidupan sehari-hari. Lalu sebuah pertanyaan...

    Read moreDetails

    Perempuan yang Selalu Dianggap Bisa: Ketika Ketangguhan Berubah Menjadi Beban Sosial

    29 July 2026
    Definisi Real Beauty! Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten 2026 dan juga dihadiri oleh Puteri Anak dan Remaja Indonesia Banten 2025 Rayakan Hari Anak Nasional Bareng Anak-Anak Lapak Pemulung

    Definisi Real Beauty! Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten Rayakan Hari Anak Nasional Bareng Anak-Anak Lapak Pemulung

    28 July 2026
    Audellya Ambara Harsono Bawa Ratusan Buku dari Amerika untuk Anak Pesisir di Hari Anak Nasional

    Gen Z Waves! Audellya Ambara Harsono Bawa Ratusan Buku dari Amerika untuk Anak Pesisir di Hari Anak Nasional

    27 July 2026

    Putri Nur Muslimah Ubah Keraguan Menjadi Mahkota Kemenangan Lalu Harumkan Nama Jawa Barat Sebagai Winner Putri Duta Pelajar Remaja Indonesia 2026

    26 July 2026
    Media Wanita

    Media Wanita menghadirkan berbagai informasi terbaru dan terpercaya tentang Wanita

    Follow Us

    Backlink

    Media Wanita, Pelataran, Berita Properti, Mobil Babe, Ada Apa, Satu Rumah, Puteri Anak & Remaja Banten, Anugerah Lima Bintang, Desta Semesta Anugerah, Anissa Quinn, Shira Dominique, Ry Hyori,

    Pemberitahuan

    MediaWanita.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan MediaWanita.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    KonMeWa

    KonMeWa adalah singkatan dari Kontributor Media Wanita yang merupakan perwakilan dari individu atau instansi yang bertanggung-jawab penuh atas semua tulisan yang diterbitkan di MediaWanita.com sesuai dengan Syarat dan Ketentuan yang berlaku di MediaWanita.com

    Lapor & Sanggahan

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 [email protected]

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Salsa
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Cyber
    • Syarat & Ketentuan Tulisan
    • Syarat dan Ketentuan
    • Disclaimer
    • Hubungi Kami

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Gaya Hidup dan Hiburan
    • Kesehatan dan Kecantikan
    • Inspirasi
    • Kirim Tulisan
      • login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita