Suatu sore, seorang perempuan duduk bersama keluarganya.
Obrolannya sederhana. Tentang pekerjaan. Tentang kabar terbaru. Tentang kehidupan sehari-hari.
Lalu sebuah pertanyaan muncul.
“Kapan menikah?”
Ia tersenyum kecil.
Bukan karena pertanyaan itu selalu mudah dijawab, tetapi karena ia sudah terlalu sering mendengarnya.
Sebelum sempat menjelaskan, pertanyaan lain datang.
“Kenapa masih sibuk bekerja?”
“Tidak ingin punya anak?”
“Kenapa memilih jalan seperti itu?”
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian.
Namun, bagi banyak perempuan, pertanyaan semacam itu menyimpan pesan yang lebih dalam: hidup mereka seolah selalu berada dalam ruang penilaian.
Ada standar yang harus dipenuhi. Ada batas yang harus dijaga. Ada pilihan yang harus dijelaskan.
Seolah-olah menjadi perempuan berarti harus terus memberikan alasan atas keputusan hidupnya sendiri.
Menariknya, tidak semua orang menghadapi tuntutan yang sama.
Seorang laki-laki yang fokus membangun karier sering disebut memiliki ambisi.
Seorang perempuan yang melakukan hal serupa terkadang ditanya kapan akan “menyelesaikan” urusan pribadinya.
Seorang laki-laki yang memilih hidup sendiri sering dianggap mandiri.
Seorang perempuan dengan pilihan yang sama sering dianggap perlu diberi nasihat.
Masalahnya bukan pada pertanyaannya semata.
Masalahnya adalah mengapa kehidupan perempuan begitu sering dianggap sebagai sesuatu yang boleh dikomentari.
Sejak lama, masyarakat memiliki gambaran tertentu tentang perempuan ideal.
Perempuan yang baik adalah perempuan yang peduli.
Perempuan yang baik adalah perempuan yang mengutamakan keluarga.
Perempuan yang baik adalah perempuan yang mampu menjaga keharmonisan.
Nilai-nilai tersebut tidak sepenuhnya buruk. Kepedulian, kasih sayang, dan tanggung jawab memang menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial.
Namun, persoalan muncul ketika nilai tersebut berubah menjadi aturan yang membatasi.
Ketika satu bentuk kehidupan dianggap paling benar.
Ketika perempuan yang memilih jalan berbeda harus memberikan penjelasan lebih panjang dibandingkan orang lain.
Di titik itulah pilihan pribadi berubah menjadi persoalan sosial.
Sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa banyak hal dalam kehidupan masyarakat terbentuk melalui proses sosial yang panjang. Sesuatu yang terus dilakukan, dipercaya, dan diwariskan akhirnya terlihat seperti sesuatu yang alami.
Padahal, ia merupakan hasil konstruksi sosial.
Begitu pula dengan gambaran tentang perempuan ideal.
Ia tidak lahir begitu saja.
Ia dibentuk melalui keluarga, budaya, pendidikan, agama, media, dan berbagai lingkungan sosial yang terus memberi pesan tentang bagaimana perempuan seharusnya hidup.
Karena terlalu lama diulang, standar tersebut sering tidak lagi dipertanyakan.
Ia dianggap sebagai kebenaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, kontrol terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk larangan.
Kadang ia hadir melalui pertanyaan. Melalui komentar. Melalui candaan. Melalui kalimat yang terdengar sederhana:
“Kok belum?”
“Kenapa begitu?”
“Memangnya tidak takut?”
Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut kondisi semacam ini sebagai kekerasan simbolik. Kekerasan tidak selalu berbentuk tindakan kasar. Ia dapat bekerja melalui norma, kebiasaan, dan cara berpikir yang membuat seseorang merasa harus mengikuti aturan tertentu.
Ketika perempuan mulai merasa bersalah karena memilih jalan hidup yang berbeda, di situlah kontrol sosial bekerja.
Bukan karena ada hukuman resmi.
Melainkan karena ada rasa takut terhadap penilaian.
Perempuan hari ini hidup dalam situasi yang penuh paradoks.
Mereka didorong untuk berpendidikan. Didorong untuk mandiri. Didorong untuk memiliki cita-cita.
Tetapi pada saat yang sama, mereka masih sering diminta menyesuaikan diri dengan ukuran lama tentang bagaimana perempuan seharusnya hidup.
Masyarakat ingin perempuan berkembang, tetapi sering kali masih ingin menentukan arah perkembangannya.
Masyarakat ingin perempuan bebas, tetapi kebebasan itu sering diberikan dengan syarat:
Boleh memilih, selama pilihannya tidak terlalu berbeda.
Tentu, perhatian keluarga dan lingkungan bukan sesuatu yang salah.
Manusia memang hidup dalam hubungan sosial. Kita saling peduli, saling mengingatkan, dan saling memberi masukan.
Namun, ada perbedaan besar antara menemani seseorang menjalani hidupnya dan merasa berhak menentukan hidup seseorang.
Sebab setiap perempuan memiliki cerita yang tidak selalu terlihat.
Ada perjuangan yang tidak diketahui.
Ada pertimbangan yang tidak pernah diceritakan.
Ada keputusan yang diambil setelah melewati perjalanan panjang.
Apa yang tampak sederhana dari luar, bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat berat bagi seseorang.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat perempuan.
Bukan lagi bertanya:
“Kapan kamu mengikuti jalan yang dianggap benar?”
Tetapi:
“Apa yang membuat jalan yang kamu pilih memiliki arti?”
Sebab perempuan bukan sekadar peran yang disiapkan masyarakat.
Ia bukan hanya seseorang yang harus memenuhi harapan orang lain.
Ia adalah manusia dengan pengalaman, kehendak, dan hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Dan mungkin, penghormatan paling sederhana kepada perempuan bukanlah memberi lebih banyak nasihat tentang bagaimana ia harus hidup.
Melainkan memberi ruang agar ia dapat menjalani hidupnya tanpa terus-menerus diminta menjelaskan mengapa ia memilih menjadi dirinya sendiri.







