“Kamu hebat sekali. Sudah bekerja, tetap mengurus rumah, masih sempat menemani anak belajar.”
Kalimat seperti itu sering terdengar sebagai pujian. Namun di baliknya, tersembunyi sebuah asumsi yang jarang dipertanyakan. Mengapa begitu banyak peran harus melekat sekaligus pada perempuan? Mengapa keberhasilan perempuan masih diukur dari kemampuannya memenuhi semua ekspektasi dalam waktu bersamaan?
Hari ini perempuan memiliki akses pendidikan yang lebih luas dibanding beberapa dekade lalu. Kesempatan bekerja juga semakin terbuka. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan berbagai indikator kesenjangan gender terus membaik. Namun, perubahan itu tidak selalu diikuti perubahan cara masyarakat memandang perempuan. Ketika ruang geraknya bertambah, daftar tuntutan justru ikut memanjang.
Perempuan didorong menjadi berpendidikan tinggi. Mereka juga diharapkan mandiri secara finansial, aktif di ruang publik, serta mampu berprestasi. Di saat yang sama, mereka tetap diminta menjadi anak yang berbakti, istri yang sabar, ibu yang hadir setiap waktu, sekaligus pengelola rumah tangga yang dianggap tidak boleh gagal. Kesempatan bertambah, tetapi beban sosial tidak berkurang.
Di sinilah sosiologi mengajak kita melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Apa yang selama ini dianggap sebagai “kodrat perempuan” sering kali bukan sesuatu yang lahir secara alamiah, melainkan dibentuk melalui proses sosial yang panjang.
Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, dalam The Social Construction of Reality, menjelaskan bahwa masyarakat membentuk realitas melalui kebiasaan yang terus diulang hingga akhirnya diterima sebagai sesuatu yang wajar. Ketika sejak kecil anak perempuan lebih sering diminta membantu pekerjaan rumah, menjaga tutur kata, mengalah, dan mendahulukan kepentingan orang lain, sementara anak laki-laki lebih banyak didorong untuk berani mengambil keputusan, masyarakat sedang memproduksi peran gender secara terus-menerus.
Simone de Beauvoir mengingatkan bahwa perempuan tidak dilahirkan dengan identitas sosial tertentu. Mereka “menjadi perempuan” melalui nilai, norma, dan harapan yang dilekatkan masyarakat. Karena proses itu berlangsung sejak kecil, banyak perempuan akhirnya menganggap berbagai tuntutan tersebut sebagai pilihan pribadi, padahal sebagian besar merupakan hasil sosialisasi yang terus direproduksi.
Pierre Bourdieu menyebut mekanisme itu sebagai habitus. Nilai yang diulang dalam keluarga, sekolah, lingkungan, bahkan media, perlahan menjadi cara berpikir yang terasa alami. Tidak mengherankan apabila banyak perempuan merasa bersalah ketika memilih mendahulukan dirinya sendiri. Rasa bersalah itu bukan semata persoalan individu, melainkan cerminan struktur sosial yang telah lama bekerja.
Ironisnya, masyarakat modern sering menganggap persoalan ini telah selesai. Perempuan dinilai telah bebas karena bisa bersekolah, bekerja, bahkan memimpin organisasi atau perusahaan. Padahal kebebasan formal belum tentu menghapus ekspektasi lama. Perempuan hari ini tidak lagi hanya dituntut menjadi “baik”, tetapi juga harus cantik, produktif, mandiri, emosional secukupnya, sukses dalam karier, sekaligus berhasil membangun keluarga yang harmonis. Standarnya terus bertambah tanpa pernah benar-benar dikurangi.
UN Women masih mencatat bahwa perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan kerja perawatan yang tidak dibayar dibanding laki-laki. Beban tersebut sering tidak terlihat karena dianggap sebagai bentuk kasih sayang atau tanggung jawab moral, bukan sebagai kerja yang memiliki nilai ekonomi maupun sosial.
Persoalannya mungkin bukan terletak pada perempuan yang ingin menjadi baik. Tidak ada yang keliru dengan kepedulian, empati, atau kelembutan. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kualitas-kualitas itu lebih sering diposisikan sebagai kewajiban perempuan daripada pilihan yang bebas mereka tentukan sendiri.
Barangkali sudah saatnya kita berhenti bertanya apakah perempuan telah berhasil memenuhi seluruh standar yang dibebankan kepadanya. Pertanyaan yang lebih mendesak justru, mengapa daftar standar itu terus bertambah, dan siapa yang sebenarnya paling diuntungkan ketika perempuan terus berusaha memenuhi semuanya?







