• Hubungi Redaksi
Kirim Tulisan
Akun Saya
Logout
Media Wanita
Kirim Tulisan
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Media Wanita
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Media Wanita
No Result
View All Result
Home Opini

Mengapa Standar “Perempuan Baik” Tak Pernah Selesai?

Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan by Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
23 July 2026
in Opini
A A
0
854
SHARES
1.2k
VIEWS

“Kamu hebat sekali. Sudah bekerja, tetap mengurus rumah, masih sempat menemani anak belajar.”

Kalimat seperti itu sering terdengar sebagai pujian. Namun di baliknya, tersembunyi sebuah asumsi yang jarang dipertanyakan. Mengapa begitu banyak peran harus melekat sekaligus pada perempuan? Mengapa keberhasilan perempuan masih diukur dari kemampuannya memenuhi semua ekspektasi dalam waktu bersamaan?

Hari ini perempuan memiliki akses pendidikan yang lebih luas dibanding beberapa dekade lalu. Kesempatan bekerja juga semakin terbuka. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan berbagai indikator kesenjangan gender terus membaik. Namun, perubahan itu tidak selalu diikuti perubahan cara masyarakat memandang perempuan. Ketika ruang geraknya bertambah, daftar tuntutan justru ikut memanjang.

Perempuan didorong menjadi berpendidikan tinggi. Mereka juga diharapkan mandiri secara finansial, aktif di ruang publik, serta mampu berprestasi. Di saat yang sama, mereka tetap diminta menjadi anak yang berbakti, istri yang sabar, ibu yang hadir setiap waktu, sekaligus pengelola rumah tangga yang dianggap tidak boleh gagal. Kesempatan bertambah, tetapi beban sosial tidak berkurang.

Di sinilah sosiologi mengajak kita melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Apa yang selama ini dianggap sebagai “kodrat perempuan” sering kali bukan sesuatu yang lahir secara alamiah, melainkan dibentuk melalui proses sosial yang panjang.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, dalam The Social Construction of Reality, menjelaskan bahwa masyarakat membentuk realitas melalui kebiasaan yang terus diulang hingga akhirnya diterima sebagai sesuatu yang wajar. Ketika sejak kecil anak perempuan lebih sering diminta membantu pekerjaan rumah, menjaga tutur kata, mengalah, dan mendahulukan kepentingan orang lain, sementara anak laki-laki lebih banyak didorong untuk berani mengambil keputusan, masyarakat sedang memproduksi peran gender secara terus-menerus.

Kirim Tulisan

Simone de Beauvoir mengingatkan bahwa perempuan tidak dilahirkan dengan identitas sosial tertentu. Mereka “menjadi perempuan” melalui nilai, norma, dan harapan yang dilekatkan masyarakat. Karena proses itu berlangsung sejak kecil, banyak perempuan akhirnya menganggap berbagai tuntutan tersebut sebagai pilihan pribadi, padahal sebagian besar merupakan hasil sosialisasi yang terus direproduksi.

Pierre Bourdieu menyebut mekanisme itu sebagai habitus. Nilai yang diulang dalam keluarga, sekolah, lingkungan, bahkan media, perlahan menjadi cara berpikir yang terasa alami. Tidak mengherankan apabila banyak perempuan merasa bersalah ketika memilih mendahulukan dirinya sendiri. Rasa bersalah itu bukan semata persoalan individu, melainkan cerminan struktur sosial yang telah lama bekerja.

Ironisnya, masyarakat modern sering menganggap persoalan ini telah selesai. Perempuan dinilai telah bebas karena bisa bersekolah, bekerja, bahkan memimpin organisasi atau perusahaan. Padahal kebebasan formal belum tentu menghapus ekspektasi lama. Perempuan hari ini tidak lagi hanya dituntut menjadi “baik”, tetapi juga harus cantik, produktif, mandiri, emosional secukupnya, sukses dalam karier, sekaligus berhasil membangun keluarga yang harmonis. Standarnya terus bertambah tanpa pernah benar-benar dikurangi.

UN Women masih mencatat bahwa perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan kerja perawatan yang tidak dibayar dibanding laki-laki. Beban tersebut sering tidak terlihat karena dianggap sebagai bentuk kasih sayang atau tanggung jawab moral, bukan sebagai kerja yang memiliki nilai ekonomi maupun sosial.

Persoalannya mungkin bukan terletak pada perempuan yang ingin menjadi baik. Tidak ada yang keliru dengan kepedulian, empati, atau kelembutan. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kualitas-kualitas itu lebih sering diposisikan sebagai kewajiban perempuan daripada pilihan yang bebas mereka tentukan sendiri.

Barangkali sudah saatnya kita berhenti bertanya apakah perempuan telah berhasil memenuhi seluruh standar yang dibebankan kepadanya. Pertanyaan yang lebih mendesak justru, mengapa daftar standar itu terus bertambah, dan siapa yang sebenarnya paling diuntungkan ketika perempuan terus berusaha memenuhi semuanya?

    Tags: PerempuanPerempuan Baik
    Share342Tweet214Share60Pin77SendShare
    Kirim Tulisan
    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan atau pemilik nama pena Faqod Faaz percaya bahwa setiap manusia menyimpan cerita yang layak didengar. Mahasiswa Sosiologi Unusia ini menulis tentang perempuan, keluarga, pendidikan, dan berbagai wajah kehidupan sosial yang sering luput diperhatikan. Aktif sebagai redaktur Katasulsel.com dan kontributor NU Online serta sejumlah media digital. Jejaknya dapat ditelusuri melalui Instagram @difaatimah_13 dan @faq_odfaaz.

    Please login to join discussion

    Terbaru

    Opini

    Mengapa Standar “Perempuan Baik” Tak Pernah Selesai?

    by Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
    23 July 2026
    0

    "Kamu hebat sekali. Sudah bekerja, tetap mengurus rumah, masih sempat menemani anak belajar." Kalimat seperti itu sering terdengar sebagai pujian....

    Read moreDetails
    Menginspirasi! Hiranindya Heryunanisita Ichwan Raih Penghargaan Bergengsi di AYIMUN BSD 2026

    Menginspirasi! Hiranindya Heryunanisita Ichwan Raih Penghargaan Bergengsi di AYIMUN BSD 2026

    22 July 2026
    Chelsi Chiapinsky yang Menginspirasi! Borong Emas di WICO 2026 Jadi Ketua OSIS Hingga Dunia Pageant dan Kecantikan

    Chelsi Chiapinsky yang Menginspirasi! Borong Emas di WICO 2026 Jadi Ketua OSIS Hingga Dunia Pageant dan Kecantikan

    22 July 2026
    Kisah Inspiratif Raissa Adelia, Raih Runner Up 2 Indonesia’s Girl 2026 dan Siap Tebar Dampak Positif

    Kisah Inspiratif Raissa Adelia, Raih Runner Up 2 Indonesia’s Girl 2026 dan Siap Tebar Dampak Positif

    16 July 2026
    Nayyara Azarine Farrashila Tampil Memukau di Indonesia Trend Fashion Week 2026, Bangga Angkat Wastra Indonesia

    Nayyara Azarine Farrashila Tampil Memukau di Indonesia Trend Fashion Week 2026, Bangga Angkat Wastra Indonesia

    10 July 2026
    Media Wanita

    Media Wanita menghadirkan berbagai informasi terbaru dan terpercaya tentang Wanita

    Follow Us

    Backlink

    Media Wanita, Pelataran, Berita Properti, Mobil Babe, Ada Apa, Satu Rumah, Puteri Anak & Remaja Banten, Anugerah Lima Bintang, Desta Semesta Anugerah, Anissa Quinn, Shira Dominique, Ry Hyori,

    Pemberitahuan

    MediaWanita.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan MediaWanita.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    KonMeWa

    KonMeWa adalah singkatan dari Kontributor Media Wanita yang merupakan perwakilan dari individu atau instansi yang bertanggung-jawab penuh atas semua tulisan yang diterbitkan di MediaWanita.com sesuai dengan Syarat dan Ketentuan yang berlaku di MediaWanita.com

    Lapor & Sanggahan

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 [email protected]

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Salsa
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Cyber
    • Syarat & Ketentuan Tulisan
    • Syarat dan Ketentuan
    • Disclaimer
    • Hubungi Kami

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Gaya Hidup dan Hiburan
    • Kesehatan dan Kecantikan
    • Inspirasi
    • Kirim Tulisan
      • login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita