• Hubungi Redaksi
Kirim Tulisan
Akun Saya
Logout
Media Wanita
Kirim Tulisan
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Media Wanita
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Media Wanita
No Result
View All Result
Home Ragam

Perempuan Boleh Memilih, tetapi Mengapa Pilihannya Selalu Diadili?

Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan by Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
13 September 2026
in Ragam
A A
0
851
SHARES
1.2k
VIEWS

Ada sesuatu yang ganjil dalam cara kita melihat perempuan.

Ketika seorang perempuan berprestasi, kita bisa membicarakan kemampuannya. Ketika ia bekerja, kita bisa membicarakan kariernya. Ketika ia memimpin, kita bisa membicarakan kepemimpinannya.

Namun, entah mengapa, pembicaraan tentang perempuan sering kembali kepada kehidupan personalnya.

Hal itu terlihat ketika seorang anak perempuan berusia 10 tahun, yang diperkenalkan karena prestasinya di bidang karate dalam pidato kenegaraan 14 Agustus 2026, turut dikaitkan dengan urusan pacaran. Komnas Perempuan kemudian merespons dengan mengingatkan bahwa perhatian terhadap anak perempuan semestinya diarahkan pada pemenuhan hak, pengembangan potensi, pendidikan, rasa aman, serta kesempatan berprestasi, bukan stereotip gender.

Sekilas, persoalan ini mungkin tampak seperti perkara komentar biasa. Tetapi justru dari hal-hal semacam itu kita bisa melihat sesuatu yang lebih besar: perempuan boleh memilih, tetapi pilihannya seolah selalu membutuhkan penjelasan.

Belum menikah, ditanya kapan menikah. Sudah menikah, ditanya kapan punya anak. Memilih bekerja, dianggap terlalu mengejar karier. Memilih berhenti bekerja, ditanya mengapa menyia-nyiakan pendidikan. Aktif di ruang publik, dianggap terlalu sibuk. Tidak banyak bicara, dianggap kurang percaya diri.

Bahkan ketika seorang perempuan masih anak-anak dan sedang diperkenalkan karena prestasinya, kehidupan personalnya bisa ikut menjadi bahan perhatian.

Masalahnya bukan sekadar ada orang yang berkomentar. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa masyarakat mempunyai ukuran tertentu tentang seperti apa perempuan yang dianggap “semestinya”?

Ketika Norma Terasa Seperti Kewajaran

Untuk memahami persoalan itu, kita bisa meminjam pemikiran Pierre Bourdieu.

Bourdieu menjelaskan doxa sebagai hal-hal yang diterima begitu saja sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan sosial. Sementara itu, konsep symbolic violence atau kekerasan simbolik menjelaskan bagaimana dominasi dapat bekerja melalui cara pandang dan kategori yang sudah dianggap alamiah. Kekuasaan, dengan demikian, tidak selalu hadir dalam bentuk larangan atau paksaan terbuka.

Dalam kehidupan perempuan, norma semacam itu hadir dalam kalimat-kalimat yang terdengar sederhana.

“Perempuan sebaiknya tidak terlalu ambisius.”

“Perempuan baik pasti ingin menikah.”

“Kalau terlalu mandiri, nanti susah dapat pasangan.”

“Perempuan harus bisa menjaga perasaan orang lain.”

Kirim Tulisan

Tidak semua kalimat tersebut dimaksudkan untuk menyakiti. Justru karena sering disampaikan sebagai nasihat, ia menjadi lebih mudah diterima.

Ketika terus diulang, nasihat dapat berubah menjadi ukuran sosial. Ukuran itu kemudian menentukan mana pilihan yang dianggap wajar dan mana yang dianggap menyimpang.

Di sinilah kontrol sosial bekerja dengan cara yang halus.

Tidak selalu ada seseorang yang berdiri di depan perempuan dan berkata, “Kamu tidak boleh memilih itu.”

Kadang cukup dengan tatapan, pertanyaan, komentar keluarga, candaan teman, atau standar sosial yang terus berulang.

Lama-kelamaan, perempuan bisa mengawasi dirinya sendiri.

Apakah saya terlalu sibuk?

Apakah saya terlalu tua untuk memulai sesuatu?

Apakah saya terlalu mandiri?

Apakah pilihan saya akan membuat keluarga kecewa?

Pada titik itu, batas sosial tidak lagi selalu berada di luar diri. Ia bisa ikut masuk ke dalam cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Kebebasan yang Masih Diawasi

Kita sering mengatakan perempuan hari ini jauh lebih bebas.

Mereka bisa mengenyam pendidikan tinggi, bekerja, membangun usaha, memimpin organisasi, memilih pasangan, bahkan menentukan apakah ingin menikah atau tidak.

Secara formal, ruang pilihan memang semakin terbuka.

Tetapi kebebasan memilih tidak otomatis berarti bebas dari penilaian sosial.

Pilihan perempuan tetap berlangsung di tengah masyarakat yang mempunyai harapan tentang usia, perkawinan, pekerjaan, tubuh, keluarga, dan perilaku yang dianggap pantas.

Karena itu, persoalannya tidak berhenti pada apakah perempuan mempunyai pilihan. Kita juga perlu bertanya: seberapa bebas seseorang ketika setiap pilihannya masih harus melewati pemeriksaan sosial?

Data Komnas Perempuan memberi gambaran bahwa ruang personal sendiri masih menjadi ruang yang sangat rentan bagi perempuan. CATAHU 2025 mencatat 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Sebanyak 337.961 kasus atau 89,76 persen terjadi di ranah personal. Komnas Perempuan menyebut kondisi tersebut menunjukkan kuatnya ketimpangan relasi kuasa dalam rumah, perkawinan, dan relasi intim.

Data itu memang berbicara tentang kekerasan, bukan sekadar komentar sosial. Namun, ia mengingatkan bahwa relasi personal tidak selalu menjadi ruang yang netral. Di dalamnya terdapat norma, harapan, kuasa, dan batas-batas tentang bagaimana perempuan seharusnya menjalani hidup.

Karena itu, kita perlu lebih hati-hati ketika menyebut sesuatu sebagai “pilihan pribadi”.

Sebab pilihan pribadi selalu berlangsung dalam lingkungan sosial.

Perempuan tidak membutuhkan masyarakat yang berhenti peduli. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk membedakan peduli dari mengatur, perhatian dari penghakiman, serta nasihat dari pembatasan.

Sebab perempuan boleh saja diberi banyak pilihan. Namun, jika hampir setiap pilihan masih harus mendapatkan persetujuan sosial, kebebasan itu belum sepenuhnya selesai.

Barangkali sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Perempuan ini memilih apa?”

Lalu mulai bertanya:

“Mengapa kita merasa berhak mengadili pilihannya?”

 

    Tags: DiadiliMemilihPerempuanpilihan
    Share340Tweet213Share60Pin77SendShare
    Kirim Tulisan
    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan atau pemilik nama pena Faqod Faaz percaya bahwa setiap manusia menyimpan cerita yang layak didengar. Mahasiswa Sosiologi Unusia ini menulis tentang perempuan, keluarga, pendidikan, dan berbagai wajah kehidupan sosial yang sering luput diperhatikan. Aktif sebagai redaktur Katasulsel.com dan kontributor NU Online serta sejumlah media digital. Jejaknya dapat ditelusuri melalui Instagram @difaatimah_13 dan @faq_odfaaz.

    Please login to join discussion

    Terbaru

    Bawa Pesan Self-Love, Auddrey Shaquilla Siap Harumkan Bengkulu di Ajang Puteri Anak Indonesia 2026
    Gaya Hidup dan Hiburan

    Bawa Pesan Self-Love, Auddrey Shaquilla Siap Harumkan Bengkulu di Ajang Puteri Anak Indonesia 2026

    by Redaksi
    12 September 2026
    0

    Bawa Pesan Self-Love, Auddrey Shaquilla Siap Harumkan Bengkulu di Ajang Puteri Anak Indonesia 2026 Mencintai bangsa ternyata bisa dimulai dari...

    Read moreDetails
    Didukung Disparekraf DKI Jakarta, Ayesha Shanum Siap Harumkan Nama Jakarta di Ajang Puteri Batik Cilik Indonesia 2026

    Didukung Disparekraf DKI Jakarta, Ayesha Shanum Siap Harumkan Nama Jakarta di Ajang Puteri Batik Cilik Indonesia 2026

    12 September 2026
    Dari kiri ke kanan: dr. Arti Indira, M.Gizi, Sp.GK, FINEM, Alexandra Askandar (Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk), Vera Febyanthy (Komisaris PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk), dr. Teuku Adifitrian (dr. Tompi), Sp.B.P.R.E, Subsp. E.L.(K)

    BNI Beyoutiful Symphony Festival 2026 Hadirkan Edukasi Bedah Plastik Estetik dan Inovasi Medis

    12 September 2026
    Kenalan dengan Ameera Delisha: Puteri Remaja Jakarta Lingkungan 2026 yang Cantik, Berprestasi, & Peduli BUMI!

    Kenalan dengan Ameera Delisha: Puteri Remaja Jakarta Lingkungan 2026 yang Cantik, Berprestasi, & Peduli BUMI!

    10 September 2026
    BNI Beyoutiful Symphony Festival Kembali Hadir Pada Tanggal 11-13 September 2026

    BNI Beyoutiful Symphony Festival Kembali Hadir Pada Tanggal 11-13 September 2026

    4 September 2026
    Media Wanita

    Media Wanita menghadirkan berbagai informasi terbaru dan terpercaya tentang Wanita

    Follow Us

    Backlink

    Media Wanita, Pelataran, Berita Properti, Mobil Babe, Ada Apa, Satu Rumah, Puteri Anak & Remaja Banten, Anugerah Lima Bintang, Desta Semesta Anugerah, Anissa Quinn, Shira Dominique, Ry Hyori,

    Pemberitahuan

    MediaWanita.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan MediaWanita.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    KonMeWa

    KonMeWa adalah singkatan dari Kontributor Media Wanita yang merupakan perwakilan dari individu atau instansi yang bertanggung-jawab penuh atas semua tulisan yang diterbitkan di MediaWanita.com sesuai dengan Syarat dan Ketentuan yang berlaku di MediaWanita.com

    Lapor & Sanggahan

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 redaksi@mediawanita.com

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Salsa
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Cyber
    • Syarat & Ketentuan Tulisan
    • Syarat dan Ketentuan
    • Disclaimer
    • Hubungi Kami

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Gaya Hidup dan Hiburan
    • Kesehatan dan Kecantikan
    • Inspirasi
    • Kirim Tulisan
      • login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita