SUKOHARJO, 4 Juli 2026 — Panggung Pendopo Balai Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, menjadi saksi bisu kekuatan, ketangguhan, dan keanggunan perempuan pada Selasa (23/6/2026) malam. Dalam perhelatan “Gelar Karya Seni Budaya Ekologis & Pembentukan Unit Usaha Kelompok”, publik dibuat terpukau oleh keluwesan dua penari perempuan muda penyandang disabilitas, Bilqis Putri Alexa dan Aurel Defa Refiandhita. Keduanya membelah kabut malam dengan tarian magis yang mengiringi peluncuran ratusan mahakarya topeng wayang berbahan dasar limbah kertas.
Keberhasilan perhelatan agung ini menyoroti peran sentral perempuan—baik sebagai kreator, penggerak, maupun pelestari alam. Dari 100 pemuda disabilitas yang diberdayakan oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), 49 di antaranya adalah perempuan tangguh. Didukung oleh para figur ibu atau ‘srikandi pendamping’ di Sanggar Inklusi Permata Hati, mereka berhasil membangun ruang aman (safe space) untuk menyulap tumpukan sampah kertas penyumbang polusi menjadi kriya bernilai ekonomi dan estetika tinggi. Gerakan pemberdayaan inklusif ini terwujud berkat dukungan pendanaan strategis dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Penampilan Bilqis dan Aurel malam itu bukan sekadar unjuk bakat, melainkan sebuah deklarasi bahwa perempuan dengan disabilitas mampu berdiri di garda terdepan sebagai subjek pelestari budaya sekaligus agen perubahan lingkungan.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menegaskan bahwa napas ekofeminisme sangat kental dalam program ini, di mana perempuan mengambil peran krusial dalam merawat rahim pertiwi.
“Melihat Bilqis dan Aurel menari dengan penuh percaya diri malam ini, serta melihat karya topeng limbah hasil tangan 49 srikandi disabilitas kita, adalah bukti nyata bahwa perempuan selalu memiliki naluri untuk merawat kehidupan. Mereka tidak hanya meruwat sampah menjadi karya seni, tetapi juga mendobrak stigma bahwa perempuan disabilitas itu rentan. Melalui pembekalan kewirausahaan ini, mereka telah berkontribusi nyata pada ekonomi sirkular dan pencapaian target iklim FOLU Net Sink 2030,” ungkap Fadhel Moubharok Ibni Faisal.
Selain pameran seni, malam tersebut juga menandai sejarah baru dengan dideklarasikannya “Unit Usaha Kelompok Sanggar Permata Hati”. Unit ini diproyeksikan menjadi wadah wirausaha sosial mandiri yang digerakkan secara kolaboratif oleh peserta dan para perempuan pendamping sanggar.
Kepala Desa Jatisobo, Darmanto, mengungkapkan rasa haru dan kebanggaannya melihat para anak perempuan di desanya mampu tampil berdaya dan memukau masyarakat luas.
“Sebagai pemerintah desa, hati saya sangat tersentuh melihat Bilqis, Aurel, dan seluruh srikandi Sanggar Inklusi Permata Hati malam ini. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi perempuan untuk berkarya hebat. Inisiatif dari YAKABI ini telah membantu membersihkan lingkungan desa dari limbah kertas, dan yang terpenting, mengangkat martabat anak-anak perempuan kami. Kami berkomitmen akan terus mendampingi dan mendukung Unit Usaha Kelompok ini agar kemandirian finansial mereka terus terjaga,” tegas Darmanto.
Keberhasilan di Jatisobo ini menjadi pesan kuat bagi seluruh perempuan di Indonesia: bahwa di tangan perempuan yang berdaya, sampah yang terbuang sekalipun dapat menjelma menjadi napas kehidupan yang baru dan harapan pelestarian bagi semesta.


