• Hubungi Redaksi
Kirim Tulisan
Akun Saya
Logout
Media Wanita
Kirim Tulisan
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Media Wanita
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Media Wanita
No Result
View All Result
Home Opini

Perempuan yang Selalu Dianggap Bisa: Ketika Ketangguhan Berubah Menjadi Beban Sosial

Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan by Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
29 July 2026
in Opini
A A
0
854
SHARES
1.2k
VIEWS

Setiap pagi, sebelum rumah benar-benar terbangun, ada perempuan yang sudah lebih dulu memulai hari. Ia menyiapkan kebutuhan keluarga. Memastikan semuanya berjalan. Menjawab pesan yang masuk. Mengingat hal-hal kecil yang sering dilupakan orang lain. Siang hari, ia bekerja. Sore menjelang malam, ia kembali mengambil peran yang berbeda.

Menjadi anak yang harus memahami orang tua. Menjadi pasangan yang harus menjaga hubungan. Menjadi ibu yang harus selalu tersedia. Menjadi teman yang siap mendengarkan.Ketika suatu hari ia berkata, “Aku lelah,” respons yang sering datang justru bukan pelukan.

Melainkan kalimat: “Kamu kan kuat.”

Kalimat itu terdengar seperti penghargaan.

Namun, kadang-kadang, ia adalah cara paling halus untuk mengatakan bahwa seseorang harus terus bertahan.

Ada perempuan yang terlalu lama dikenal sebagai orang yang mampu mengatasi semuanya.

Karena ia jarang menangis, orang mengira ia tidak pernah sedih.

Karena ia jarang meminta bantuan, orang mengira ia tidak membutuhkan pertolongan.

Karena ia selalu hadir untuk orang lain, orang lupa bahwa dirinya juga membutuhkan ruang untuk dipedulikan.

Di situlah ketangguhan mulai berubah menjadi beban. Bukan karena menjadi kuat adalah sesuatu yang salah. Tetapi karena masyarakat sering merasa nyaman dengan perempuan yang selalu kuat.

Kita hidup dalam budaya yang sering memuji perempuan mandiri.

Perempuan yang bisa bekerja. Perempuan yang bisa mengurus keluarga. Perempuan yang tetap tersenyum meski menghadapi banyak tekanan.

Namun, di balik pujian itu, ada tuntutan yang sering tidak terlihat.

Perempuan yang dianggap “bisa” biasanya akan diberi lebih banyak tanggung jawab.

Ia dipercaya mengurus lebih banyak hal. Ia diminta lebih memahami. Ia diharapkan lebih sabar.

Seolah-olah kemampuan bertahan yang ia miliki adalah sumber daya yang boleh terus digunakan tanpa batas.

Padahal, manusia bukan mesin yang bisa terus bekerja hanya karena dianggap kuat.

Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan berbagai aturan sosial tentang bagaimana seharusnya mereka menjadi perempuan yang baik.

Harus lembut. Harus peduli. Harus menjaga perasaan orang lain. Harus mampu menciptakan suasana yang nyaman.

Kirim Tulisan

Nilai-nilai tersebut memang memiliki sisi positif. Kepedulian dan kemampuan merawat hubungan merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial.

Namun, persoalan muncul ketika sifat-sifat tersebut dianggap sebagai kewajiban alami perempuan.

Ketika perempuan tidak lagi dilihat sebagai individu yang memiliki pilihan, tetapi sebagai seseorang yang harus selalu memenuhi harapan sosial.

Sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa banyak hal yang dianggap “wajar” dalam kehidupan sebenarnya terbentuk melalui proses sosial yang panjang. Masyarakat menciptakan nilai, mengulangnya, lalu menjadikannya seperti kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan.

Begitu pula dengan gambaran tentang perempuan ideal.

Ia bukan hanya tentang bagaimana perempuan melihat dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana masyarakat mengatur cara perempuan seharusnya hidup.

Ada satu bentuk pekerjaan perempuan yang sering tidak terlihat.

Pekerjaan yang tidak memiliki jam kantor.

Tidak memiliki jabatan. Tidak selalu mendapatkan penghargaan. Tetapi membuat kehidupan sehari-hari tetap berjalan.

Mengingat kebutuhan keluarga. Menjaga suasana rumah. Membaca perubahan emosi orang lain. Menjadi tempat seseorang bercerita ketika dunia terasa terlalu berat.

Sosiolog Arlie Hochschild menyebutnya sebagai emotional labor, yaitu kerja mengelola emosi untuk menjaga hubungan sosial tetap berlangsung.

Masalahnya, kerja emosional sering tidak dianggap sebagai kerja.

Ia dianggap sebagai bentuk kasih sayang.

Sebagai sesuatu yang memang sudah menjadi bagian dari perempuan.

Akibatnya, ketika perempuan merasa lelah, rasa lelah itu sering dianggap berlebihan.

Ketika perempuan membutuhkan bantuan, ia justru dianggap kurang kuat.

Yang menarik, masyarakat sering mengatakan ingin melihat perempuan berdaya.

Namun, sering kali ukuran keberdayaan perempuan masih diukur dari seberapa banyak beban yang mampu ia pikul.

Perempuan dianggap hebat ketika ia mampu melakukan banyak hal sekaligus. Tetapi jarang ditanya apakah ia memang ingin membawa semuanya sendirian.

Kita mengagumi perempuan yang bertahan.

Tetapi lupa bertanya mengapa ia harus bertahan sejauh itu. Kita memuji perempuan yang tidak menyerah. Tetapi kadang lupa bahwa seseorang juga berhak berhenti sebentar.

Perempuan tidak menjadi kurang bernilai ketika ia lelah. Ia tidak menjadi lebih lemah ketika membutuhkan bantuan. Sebab kekuatan bukan berarti tidak pernah jatuh. Kekuatan juga berarti memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya manusia.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti hanya mengagumi perempuan karena kemampuannya menanggung banyak hal.

Sebab dunia yang baik bukan dunia yang membuat perempuan semakin kuat menghadapi beban.

Melainkan dunia yang membuat perempuan tidak harus selalu kuat sendirian.

    Tags: beban sosialPerempuan
    Share342Tweet214Share60Pin77SendShare
    Kirim Tulisan
    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan atau pemilik nama pena Faqod Faaz percaya bahwa setiap manusia menyimpan cerita yang layak didengar. Mahasiswa Sosiologi Unusia ini menulis tentang perempuan, keluarga, pendidikan, dan berbagai wajah kehidupan sosial yang sering luput diperhatikan. Aktif sebagai redaktur Katasulsel.com dan kontributor NU Online serta sejumlah media digital. Jejaknya dapat ditelusuri melalui Instagram @difaatimah_13 dan @faq_odfaaz.

    Please login to join discussion

    Terbaru

    Opini

    Mengapa Perempuan Harus Menjelaskan Pilihannya?

    by Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan
    29 July 2026
    0

    Suatu sore, seorang perempuan duduk bersama keluarganya. Obrolannya sederhana. Tentang pekerjaan. Tentang kabar terbaru. Tentang kehidupan sehari-hari. Lalu sebuah pertanyaan...

    Read moreDetails

    Perempuan yang Selalu Dianggap Bisa: Ketika Ketangguhan Berubah Menjadi Beban Sosial

    29 July 2026
    Definisi Real Beauty! Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten 2026 dan juga dihadiri oleh Puteri Anak dan Remaja Indonesia Banten 2025 Rayakan Hari Anak Nasional Bareng Anak-Anak Lapak Pemulung

    Definisi Real Beauty! Puteri Anak dan Puteri Remaja Banten Rayakan Hari Anak Nasional Bareng Anak-Anak Lapak Pemulung

    28 July 2026
    Audellya Ambara Harsono Bawa Ratusan Buku dari Amerika untuk Anak Pesisir di Hari Anak Nasional

    Gen Z Waves! Audellya Ambara Harsono Bawa Ratusan Buku dari Amerika untuk Anak Pesisir di Hari Anak Nasional

    27 July 2026

    Putri Nur Muslimah Ubah Keraguan Menjadi Mahkota Kemenangan Lalu Harumkan Nama Jawa Barat Sebagai Winner Putri Duta Pelajar Remaja Indonesia 2026

    26 July 2026
    Media Wanita

    Media Wanita menghadirkan berbagai informasi terbaru dan terpercaya tentang Wanita

    Follow Us

    Backlink

    Media Wanita, Pelataran, Berita Properti, Mobil Babe, Ada Apa, Satu Rumah, Puteri Anak & Remaja Banten, Anugerah Lima Bintang, Desta Semesta Anugerah, Anissa Quinn, Shira Dominique, Ry Hyori,

    Pemberitahuan

    MediaWanita.com adalah portal berita komunitas yang berpusat di Jakarta dan tidak memiliki kantor perwakilan dimanapun. Tulisan atau berita yang ada merupakan kontribusi penulis lepas dari seluruh Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Hati-Hati dengan oknum yang meng-atas-nama-kan MediaWanita.com dengan mengaku sebagai wartawan, karena kami tidak memiliki wartawan dan tidak mengeluarkan kartu pengenal wartawan atau Kartu Pers atau Press ID Card.

    KonMeWa

    KonMeWa adalah singkatan dari Kontributor Media Wanita yang merupakan perwakilan dari individu atau instansi yang bertanggung-jawab penuh atas semua tulisan yang diterbitkan di MediaWanita.com sesuai dengan Syarat dan Ketentuan yang berlaku di MediaWanita.com

    Lapor & Sanggahan

    Jika Anda merasa keberatan dengan adanya tulisan, gambar, atau video yang ditampilkan di situs ini karena alasan hak cipta atau alasan lainnya, silakan hubungi tim redaksi melalui email di:

    📧 [email protected]

    Kami akan segera meninjau dan menghapus konten yang dimaksud sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan redaksi.

    Square Media Wanita
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Cyber
    • Syarat & Ketentuan Tulisan
    • Syarat dan Ketentuan
    • Disclaimer
    • Hubungi Kami

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Gaya Hidup dan Hiburan
    • Kesehatan dan Kecantikan
    • Inspirasi
    • Kirim Tulisan
      • login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita