Setiap pagi, sebelum rumah benar-benar terbangun, ada perempuan yang sudah lebih dulu memulai hari. Ia menyiapkan kebutuhan keluarga. Memastikan semuanya berjalan. Menjawab pesan yang masuk. Mengingat hal-hal kecil yang sering dilupakan orang lain. Siang hari, ia bekerja. Sore menjelang malam, ia kembali mengambil peran yang berbeda.
Menjadi anak yang harus memahami orang tua. Menjadi pasangan yang harus menjaga hubungan. Menjadi ibu yang harus selalu tersedia. Menjadi teman yang siap mendengarkan.Ketika suatu hari ia berkata, “Aku lelah,” respons yang sering datang justru bukan pelukan.
Melainkan kalimat: “Kamu kan kuat.”
Kalimat itu terdengar seperti penghargaan.
Namun, kadang-kadang, ia adalah cara paling halus untuk mengatakan bahwa seseorang harus terus bertahan.
Ada perempuan yang terlalu lama dikenal sebagai orang yang mampu mengatasi semuanya.
Karena ia jarang menangis, orang mengira ia tidak pernah sedih.
Karena ia jarang meminta bantuan, orang mengira ia tidak membutuhkan pertolongan.
Karena ia selalu hadir untuk orang lain, orang lupa bahwa dirinya juga membutuhkan ruang untuk dipedulikan.
Di situlah ketangguhan mulai berubah menjadi beban. Bukan karena menjadi kuat adalah sesuatu yang salah. Tetapi karena masyarakat sering merasa nyaman dengan perempuan yang selalu kuat.
Kita hidup dalam budaya yang sering memuji perempuan mandiri.
Perempuan yang bisa bekerja. Perempuan yang bisa mengurus keluarga. Perempuan yang tetap tersenyum meski menghadapi banyak tekanan.
Namun, di balik pujian itu, ada tuntutan yang sering tidak terlihat.
Perempuan yang dianggap “bisa” biasanya akan diberi lebih banyak tanggung jawab.
Ia dipercaya mengurus lebih banyak hal. Ia diminta lebih memahami. Ia diharapkan lebih sabar.
Seolah-olah kemampuan bertahan yang ia miliki adalah sumber daya yang boleh terus digunakan tanpa batas.
Padahal, manusia bukan mesin yang bisa terus bekerja hanya karena dianggap kuat.
Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan berbagai aturan sosial tentang bagaimana seharusnya mereka menjadi perempuan yang baik.
Harus lembut. Harus peduli. Harus menjaga perasaan orang lain. Harus mampu menciptakan suasana yang nyaman.
Nilai-nilai tersebut memang memiliki sisi positif. Kepedulian dan kemampuan merawat hubungan merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial.
Namun, persoalan muncul ketika sifat-sifat tersebut dianggap sebagai kewajiban alami perempuan.
Ketika perempuan tidak lagi dilihat sebagai individu yang memiliki pilihan, tetapi sebagai seseorang yang harus selalu memenuhi harapan sosial.
Sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa banyak hal yang dianggap “wajar” dalam kehidupan sebenarnya terbentuk melalui proses sosial yang panjang. Masyarakat menciptakan nilai, mengulangnya, lalu menjadikannya seperti kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan.
Begitu pula dengan gambaran tentang perempuan ideal.
Ia bukan hanya tentang bagaimana perempuan melihat dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana masyarakat mengatur cara perempuan seharusnya hidup.
Ada satu bentuk pekerjaan perempuan yang sering tidak terlihat.
Pekerjaan yang tidak memiliki jam kantor.
Tidak memiliki jabatan. Tidak selalu mendapatkan penghargaan. Tetapi membuat kehidupan sehari-hari tetap berjalan.
Mengingat kebutuhan keluarga. Menjaga suasana rumah. Membaca perubahan emosi orang lain. Menjadi tempat seseorang bercerita ketika dunia terasa terlalu berat.
Sosiolog Arlie Hochschild menyebutnya sebagai emotional labor, yaitu kerja mengelola emosi untuk menjaga hubungan sosial tetap berlangsung.
Masalahnya, kerja emosional sering tidak dianggap sebagai kerja.
Ia dianggap sebagai bentuk kasih sayang.
Sebagai sesuatu yang memang sudah menjadi bagian dari perempuan.
Akibatnya, ketika perempuan merasa lelah, rasa lelah itu sering dianggap berlebihan.
Ketika perempuan membutuhkan bantuan, ia justru dianggap kurang kuat.
Yang menarik, masyarakat sering mengatakan ingin melihat perempuan berdaya.
Namun, sering kali ukuran keberdayaan perempuan masih diukur dari seberapa banyak beban yang mampu ia pikul.
Perempuan dianggap hebat ketika ia mampu melakukan banyak hal sekaligus. Tetapi jarang ditanya apakah ia memang ingin membawa semuanya sendirian.
Kita mengagumi perempuan yang bertahan.
Tetapi lupa bertanya mengapa ia harus bertahan sejauh itu. Kita memuji perempuan yang tidak menyerah. Tetapi kadang lupa bahwa seseorang juga berhak berhenti sebentar.
Perempuan tidak menjadi kurang bernilai ketika ia lelah. Ia tidak menjadi lebih lemah ketika membutuhkan bantuan. Sebab kekuatan bukan berarti tidak pernah jatuh. Kekuatan juga berarti memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya manusia.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti hanya mengagumi perempuan karena kemampuannya menanggung banyak hal.
Sebab dunia yang baik bukan dunia yang membuat perempuan semakin kuat menghadapi beban.
Melainkan dunia yang membuat perempuan tidak harus selalu kuat sendirian.







