Jakarta – Anak-anak sejak pendidikan dini harus diedukasi mengenai identitas gender dan batasan area tubuh mereka yang harus dijaga dari siapa saja. Isu kekerasan seksual terhadap anak, fenommena LGBT yang marak di media sosial saat ini jg harus menjadi alarm bagi keluarga maslahah Jakarta agar selalu waspada dan siaga dalam memperkuat keluarga. Menjaga dan mendidik anak dengan segenap cara yg sesuai dg tuntunan agama Islam sebagai agama rahmat bagi semesta, termasuk anak. Kadang anak tidak selalu ingin diperlakukan sebagai anak. Ada masanya mereka ingin dianggap sebagai teman.
Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PWNU DKI Jakarta Nyai Hj. Rahayu Sri Rahmawati dalam Kajian Keluarga Maslahah Seri #32 bertajuk “Anak-Anak Keluarga Jakarta di Persimpangan: LGBT Penyakit atau Qodrat?” di Gallery Roemah Djan, Jakarta Pusat, Ahad (19/7/2026).
Kajian dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 itu diikuti ratusan jamaah dari LKKNU se-DKI Jakarta dan majelis taklim. Forum juga memberi kesempatan menjadi ruang sharing antar jamaah tentang pengasuhan, perlindungan anak, hingga persoalan LGBT yang ditemui di lingkungan sekitar, agar para jamaah bisa mendapatkan wawasan dan pengalaman bermanfaat dalam menghadapi situasi seputar penguatan anak dan keluarga.
“Intinya, anak-anak kita harus sedini mungkin dibekali pemahaman identitasnya,” ujar Nyai Rahayu, yang juga Kepala Pusat PPPA DKI Jakarta, kembali menekankan pentingnya peran keluarga membangun suasana perlindungan yang nyaman bagi anak.
Beberapa jamaah membagikan pengalaman dalam edukasi anak seperti penggunaan lagu untuk mengenalkan batasan sentuhan tubuh kepada anak. Dan ada juga lainnya yang mengangkat cerita tentang seorang tetangga yang disebut memiliki ketertarikan sesama jenis.
Sharing tersebut menjadi sarana diskusi yang bermanfaat bagi semua jamaah terutama pada pembahasan tentang sikap keluarga dan lingkungan dalam menghadapi persoalan yang muncul di sekitar anak.
Nyai Rahayu menyetujui salah satu media edukasi bagi anak yang mudah dipahami dan bisa menjadi informasi yang tertanam dengan kuat pada alam bawah sadar anak adalah dengan lagu mengenai hak tubuh mereka.
“Melalui lagu, edukasi perlindungan diri menjadi lebih mudah dipahami dan diimplementasikan oleh anak”, lanjutnya.
Pembahasan isu LGBT juga mendapat tanggapan dari Nyai Hj. Lulik Silviah sebagai sekretaris LKKNU DKI, yang turut berbagi cerita bahwa pelaku LGBT kadang adalah korban dari hubungan internal keluarga, pelaku LGBT merupakan kondisi sakit mental yang perlu dukungan kuat dan kesabaran orangtua dalam menyembuhkan. Nyai Hj. Ibah kemudian menambahkan tentang peran ibu sebagai madrasah awal bagi anak, serta bberapa peserta lainnya sharing dan diskusi bersama tentang pengalaman dan informasi seputar kekhawatiran dengan isu LGBT yang membuat diskusi berlangsung sangat interaktif.
Selain sharing dan duskusi, kegiatan ditutup dengan pembagian doorprize kepada jamaah.
Pada momentum HAN 2026, forum tersebut kembali menegaskan pentingnya peran keluarga sekaligus mendorong semua peserta untuk lebih peka terhadap persoalan yang hadir di sekitar mereka.(*)







