Sumedang, (5/10/2026) — Aroma makanan, kesibukan dapur, perjalanan menuju tempat baru, hingga percakapan dengan para pelaku usaha menjadi bagian dari cerita panjang Dede Rini Sulastri. Perempuan yang sejak kecil akrab disapa Derini tersebut perlahan menemukan ruangnya sendiri melalui berbagai pengalaman yang sempat membawanya berpindah dari satu bidang ke bidang lain.
Dede Rini Sulastri adalah seorang ibu rumah tangga asal Sumedang, Jawa Barat, yang kini aktif sebagai foodies creator sekaligus founder KIRI PROJECT. Derini dikenal melalui aktivitas content creation yang mengangkat berbagai pengalaman seputar kuliner, kafe, lifestyle, dan traveling. Selain membangun personal branding sebagai creator, Derini juga mengembangkan KIRI PROJECT, sebuah creator network dan collaboration platform yang mempertemukan creator dengan brand, UMKM, komunitas, media partner, serta strategic partner. Perjalanan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelum dikenal sebagai foodies creator dan founder KIRI PROJECT, Derini telah melewati pengalaman sebagai pelaku UMKM makanan, marketer, admin, asisten konsultan, pengelola kafe, affiliate, hingga creator yang aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.
Nama Dede Rini Sulastri mungkin terdengar berbeda ketika ia berada di berbagai lingkungan. Sejak kecil, keluarga mengenalnya sebagai Derini. Sebagian orang kemudian memanggilnya Teh Derini, Teh Rini, atau Teh Dede. Ketika tinggal dan beraktivitas di Yogyakarta, panggilan Mbak Der lebih sering melekat. Ada pula fase ketika dirinya menangani administrasi sekaligus membantu seorang konsultan dan berkomunikasi dengan para member. Karena anak pertamanya bernama Nadia, para member kemudian mengenalnya sebagai Ummu Nadia. Beragam panggilan tersebut seperti mengikuti perubahan fase kehidupan yang dijalaninya. Setiap nama hadir bersama lingkungan, pekerjaan, dan peran yang berbeda. Namun, satu hal yang relatif tidak berubah adalah keinginannya untuk mencoba sesuatu yang baru.
Kecintaan Derini terhadap makanan bahkan sudah tumbuh jauh sebelum dirinya mengenal dunia content creation. Ia terbiasa mencoba berbagai jenis makanan, termasuk makanan sederhana maupun bahan-bahan yang tidak selalu umum digunakan. Rasa ingin tahu tersebut kemudian membawanya lebih jauh ke dapur. Aktivitas mencoba makanan berkembang menjadi kegemaran bereksperimen dan membuat berbagai olahan sendiri. Pengalaman tersebut akhirnya membawanya memasuki dunia usaha makanan sekitar 2015. Salah satu usaha yang menjadi bagian penting dari perjalanan awalnya adalah Nadiya Home, sebuah usaha rumahan yang memproduksi emping dan makanan ringan.
Nama Nadiya dipilih dari nama anak pertamanya. Foto Nadia ketika masih kecil bahkan digunakan sebagai bagian dari identitas produk. Bagi Derini, usaha tersebut bukan sekadar aktivitas untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga menjadi ruang belajar pertama tentang bagaimana sebuah produk makanan dibuat dan dipasarkan. Produk Nadiya Home dititipkan ke sekitar 20 warung dan rumah makan yang tersebar di kawasan Paseh, Conggeang, dan wilayah sekitarnya. Salah satu tempat yang menjadi bagian dari jaringan penjualan tersebut adalah Rumah Makan Mah Nini.

Pola kerja Derini ketika itu cukup sederhana, tetapi membutuhkan ketekunan. Setiap dua minggu ia berkeliling untuk mengambil produk yang telah terjual sekaligus mengisi kembali stok. Penghasilan yang diperoleh berada pada kisaran Rp250 ribu hingga Rp500 ribu dalam satu kali periode keliling, bergantung pada jumlah produk yang berhasil terjual. Hampir seluruh proses usaha dikerjakannya sendiri. Mulai dari membeli bahan, memproduksi makanan, mengemas produk, mencari tempat penitipan, memasarkan, sampai mendistribusikannya dilakukan secara mandiri. Ketika permintaan meningkat, terutama menjelang Lebaran, satu atau dua orang tetangga terkadang ikut membantu proses produksi.
Pengalaman tersebut membuat Derini mulai memahami bahwa menjalankan usaha makanan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat produk. Produksi harus diatur, stok harus dipantau, distribusi perlu diperhatikan, sementara pemasaran menentukan seberapa jauh produk dapat dikenal konsumen. Pelajaran serupa kembali diperolehnya ketika Derini mencoba membuat bakso sendiri. Ia pernah memproduksi bakso berukuran jumbo dengan ukuran sekitar dua kepalan tangan. Produk tersebut sempat mendapatkan cukup banyak pesanan dan membuka pengalaman baru dalam menjalankan usaha makanan dengan kapasitas produksi yang lebih besar.
Kesibukan tersebut membuat hari-harinya dimulai sejak dini hari. Sekitar pukul tiga pagi, Derini sudah berangkat ke pasar untuk mengantre menggiling bahan bakso. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan produksi hingga pemasaran. Rutinitas itu berlangsung sekitar tiga bulan. Banyaknya pekerjaan yang masih dikerjakan seorang diri akhirnya membuat beban semakin berat. Pada fase tersebut, Derini belum banyak memahami pentingnya pembagian tugas dan delegasi. Kondisi itu menjadi salah satu alasan usaha bakso akhirnya dihentikan.
Pengalaman tersebut justru meninggalkan pelajaran yang terus dibawanya hingga sekarang. Derini mulai memahami bahwa pertumbuhan sebuah usaha membutuhkan sistem kerja, pembagian tanggung jawab, serta orang-orang yang dapat membantu menjalankan bagian tertentu. Langkah berikutnya membawa Derini memasuki dunia marketing. Ia bergabung dengan PT Natural Nusantara di Sumedang dan menjalani aktivitas pemasaran di bawah bimbingan Coach Muhammad Diana Mufti, C.HT., C.Herb., Crown Diamond Director PT Natural Nusantara sekaligus praktisi Terapi Langit.
Kemampuan Derini dalam menjalankan aktivitas marketing kemudian menarik perhatian Coach Mufti. Sebuah peluang lain ditawarkan kepadanya, yakni untuk mendapatkan pengalaman sekaligus penghasilan tambahan dengan menetap di Yogyakarta dan bergabung sebagai admin official serta asisten konsultan. Kesempatan tersebut membuka lingkungan baru bagi Derini. Pada awalnya ia masih menjalankan aktivitas bersama Natural Nusantara. Seiring waktu, keputusan untuk tidak lagi melanjutkan fokus karier pada perusahaan tersebut akhirnya dipilihnya sendiri. Perhatian kemudian diarahkan pada pekerjaan administrasi, komunikasi, dan pelayanan para member di Yogyakarta.
Kurang lebih dua tahun dijalani Derini dalam peran tersebut. Pekerjaannya menuntut kemampuan berkomunikasi, mengelola administrasi, memberikan pelayanan, serta menjaga hubungan dengan banyak member. Anak pertamanya, Nadia, ketika itu masih kecil. Kedekatan tersebut membuat para member terbiasa memanggilnya Ummu Nadia. Penghasilan pada fase tersebut tidak selalu sama setiap bulan. Derini pernah memperoleh sekitar Rp2 juta hingga mencapai sekitar Rp7 juta pada periode tertentu. Angka tersebut menjadi bagian dari pengalaman ekonominya sekaligus menunjukkan bagaimana berbagai keterampilan yang diperoleh dari pekerjaan sebelumnya mulai memiliki nilai dalam bidang yang berbeda.
Yogyakarta kemudian kembali mempertemukannya dengan dunia kuliner. Memasuki 2022, Derini dipercaya ikut mengelola Kafe Satu Tujuan. Keterlibatannya berlangsung pada fase akhir perjalanan operasional kafe tersebut. Pengalaman itu kembali membuatnya dekat dengan makanan dan tempat makan. Waktu luang kemudian dimanfaatkan untuk mengeksplorasi berbagai kafe di Yogyakarta bersama teman-temannya. Perhatiannya tidak berhenti pada menu yang tersedia. Konsep ruangan, suasana, pelayanan, hingga pengalaman pengunjung mulai menjadi bagian yang diperhatikannya.
Nama Mbak Der pun semakin akrab digunakan oleh lingkungan pergaulannya di Yogyakarta. Ada pengalaman menarik yang kemudian baru terasa relevansinya beberapa tahun setelah fase tersebut berlalu. Ketika masih berkaitan dengan pengelolaan kafe, Derini pernah merasakan bagaimana sebuah usaha membutuhkan influencer atau content creator untuk membantu mengenalkan produk dan tempat kepada masyarakat. Belakangan, posisi Derini justru berada di sisi seberang. Ia menjadi creator yang mengunjungi tempat makan, mencoba produk, membuat ulasan, serta membagikan pengalaman kepada audiens. Perubahan posisi tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman masa lalu dapat menemukan bentuk baru ketika seseorang memasuki bidang yang berbeda.
Derini sendiri menikah pada 2013. Pernikahan dan perannya sebagai ibu tidak membuat proses belajar berhenti. Berbagai kesempatan tetap dicoba, meskipun bentuknya berubah mengikuti kondisi keluarga dan kehidupan yang dijalaninya. Ia menyebut dukungan pasangan sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan tersebut. Sang suami menjadi teman bertumbuh yang terbuka terhadap ilmu, mau belajar, dan memiliki cara pandang yang membuat keduanya dapat berdiskusi sebelum mengambil keputusan.
Berbagai langkah yang diambil Derini dalam kehidupan maupun pekerjaan kerap dibicarakan bersama. Pola komunikasi tersebut membuat proses mengambil keputusan menjadi ruang untuk saling bertukar pandangan. Bagi Derini, menikah muda bukan alasan untuk berhenti membangun masa depan. Peran sebagai istri dan ibu justru berjalan berdampingan dengan kesempatan untuk belajar, berkarya, serta mengenali kemampuan diri.
Pandangan tersebut kemudian semakin terlihat ketika Derini mulai memasuki dunia digital. Awal 2025 menjadi salah satu titik penting ketika ia mulai merintis aktivitas sebagai affiliate. Konten yang dibuat pada awalnya banyak berkaitan dengan makanan. Kebiasaan mencicipi berbagai makanan kemudian berkembang menjadi aktivitas membuat review kuliner dan mengunjungi berbagai tempat. Perlahan, kontennya meluas ke kafe, lifestyle, dan traveling. Pengalaman menulis yang telah dimiliki sebelumnya turut menemukan tempat dalam aktivitas tersebut. Derini tidak sekadar memperlihatkan makanan melalui kamera, tetapi juga berusaha menceritakan pengalaman yang menyertainya.
Sejumlah tempat makan dan brand pernah masuk dalam eksplorasinya. Kawasan Sumedang dan Bandung menjadi bagian dari perjalanan awalnya sebagai foodies creator. Brand seperti Burger King, Momoyo, dan Domino’s pernah menjadi bagian dari konten yang dibuatnya, berdampingan dengan rumah makan lokal dan tempat kuliner yang sedang ramai diperbincangkan. Perjalanan tersebut kemudian meluas ke berbagai daerah seperti Cianjur, Cirebon, dan Yogyakarta. Madasari, Pangandaran, juga pernah menjadi tujuan eksplorasi ketika Derini berburu seafood sekaligus mendokumentasikan perjalanan kulinernya.
Bagi Derini, aktivitas sebagai foodies creator tidak berhenti pada memberikan penilaian terhadap makanan. Ada proses menemukan tempat baru, mencoba menu, memperhatikan suasana, berinteraksi dengan orang-orang, kemudian mengubah pengalaman tersebut menjadi cerita yang dapat dinikmati audiens. Karakter tersebut membuat kontennya berkembang secara alami. Makanan tetap menjadi titik utama, tetapi perjalanan, kafe, gaya hidup, dan pengalaman mengunjungi suatu tempat ikut menjadi bagian dari cerita.
Aktivitas sebagai foodies creator akhirnya terasa seperti kelanjutan dari kebiasaan yang telah dimiliki Derini sejak kecil. Kegemaran mencoba makanan, ketertarikan pada tempat baru, kebiasaan menulis, dan pengalaman berkomunikasi dengan banyak orang bertemu dalam satu ruang bernama content creation. Perjalanan sebagai creator juga memperkenalkan Derini pada persoalan lain. Ia menyadari bahwa jumlah pengikut yang belum besar tidak selalu berarti peluang yang kecil. Sebagai seorang nano creator, Derini mulai mempelajari karakter masing-masing platform, mengembangkan akun, melakukan pitching kepada brand, membangun komunikasi dengan pemilik usaha, hingga melakukan negosiasi untuk kebutuhan kolaborasi.
Pengalaman marketing yang telah dijalani bertahun-tahun sebelumnya menjadi bekal yang kembali berguna. Kemampuan membaca peluang, membangun komunikasi, dan menawarkan kerja sama membuat Derini tidak hanya memikirkan perkembangan akunnya sendiri. Ia mulai membantu sejumlah teman yang memiliki keinginan untuk berkembang sebagai creator. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Bersama Kiki Sri Hastuti, Derini membangun KIRI PROJECT pada pertengahan 2025.
KIRI PROJECT merupakan creator network dan collaboration platform yang dirancang untuk mempertemukan creator, brand, UMKM, komunitas, media partner, serta strategic partner dalam sebuah ekosistem kolaborasi. Pertumbuhan KIRI PROJECT kemudian memperlihatkan bagaimana pengalaman pribadi Derini sebagai creator dapat dikembangkan menjadi ruang kolaborasi bagi lebih banyak orang. Sekitar 1.000 creator telah terhimpun dalam ekosistem tersebut, sementara jumlah kolaborasi dengan brand dan pelaku usaha telah mencapai lebih dari 50 kerja sama.

Angka tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam perjalanan KIRI PROJECT. Bagi Derini, membangun jaringan creator bukan semata-mata soal mempertemukan orang dengan brand. Ada upaya untuk membuka akses, memperluas kesempatan, dan membantu creator melihat potensi yang mungkin belum mereka sadari. Pengalaman masa lalu kembali memiliki peran. Pengalaman sebagai pelaku UMKM membuatnya memahami kebutuhan pemilik usaha. Pengalaman marketing membantunya membaca peluang dan melakukan pendekatan. Pengalaman sebagai admin memperkuat kemampuan koordinasi dan pelayanan. Pengalaman mengelola kafe membuatnya memahami kebutuhan promosi dari sudut pandang bisnis. Sementara pengalaman sebagai creator membuatnya memahami dinamika kerja sama dari sisi kreator.
Seluruh pengalaman tersebut bertemu dalam KIRI PROJECT. Perjalanan Dede Rini Sulastri memperlihatkan bahwa perubahan profesi tidak selalu berarti meninggalkan pengalaman sebelumnya. Setiap fase justru dapat menjadi modal untuk memasuki bidang berikutnya. Ketika menjalankan Nadiya Home, Derini belajar mengenai produksi, distribusi, stok, dan pemasaran. Pengalaman membuat bakso mengajarkannya mengenai beban operasional serta pentingnya delegasi. Dunia marketing memperkenalkannya pada komunikasi dan peluang. Pekerjaan administrasi mengasah koordinasi dan pelayanan. Pengalaman mengelola kafe kembali mendekatkannya dengan industri kuliner. Aktivitas affiliate dan content creation kemudian menjadi ruang untuk menggabungkan pengalaman tersebut dengan kegemaran terhadap makanan, tulisan, perjalanan, dan kreativitas.
Perubahan cara kerja juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Jika pada masa awal menjalankan usaha Derini terbiasa mengerjakan hampir seluruh pekerjaan seorang diri, pengalaman bertahun-tahun membuatnya semakin memahami pentingnya sistem dan pembagian peran. Pemahaman itu kemudian ikut memengaruhi cara ia membangun KIRI PROJECT bersama jaringan creator yang terus berkembang. Kesibukan sebagai ibu, foodies creator, dan founder tetap berjalan berdampingan. Ada waktu untuk membuat konten, mengeksplorasi kuliner, bertemu pelaku usaha, membangun komunikasi dengan creator, sekaligus menjalankan kehidupan keluarga.
Pada titik tertentu, perjalanan Derini memang telah jauh dari dapur rumahan tempat ia dulu memulai usaha makanan. Namun, hubungan dengan makanan tidak pernah benar-benar terputus. Ia masih menikmati makanan, menulis, menemukan tempat baru, melakukan perjalanan, dan mencoba pengalaman yang belum pernah dijalani sebelumnya. Perbedaannya, pengalaman tersebut kini memiliki medium yang lebih luas. Kamera ponsel menjadi ruang untuk bercerita. Platform digital menjadi tempat berbagi pengalaman. Sementara KIRI PROJECT menjadi ruang untuk mempertemukan lebih banyak orang dengan peluang kolaborasi.
Kisah Dede Rini Sulastri pada bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang berganti profesi. Perjalanannya menggambarkan bagaimana pengalaman sederhana dari dapur rumah dapat berkembang menjadi pengetahuan tentang bisnis, marketing, komunikasi, content creation, hingga membangun sebuah ekosistem creator. Dari UMKM makanan, Derini menemukan pelajaran tentang ketekunan. Dari marketing, ia belajar membaca peluang. Dari administrasi, ia belajar mengelola hubungan dengan banyak orang. Dari dunia kafe, ia kembali menemukan kedekatan dengan kuliner. Dari content creation, ia menemukan cara untuk mengubah pengalaman menjadi cerita.
Kini, nama Derini melekat pada dua ruang yang saling berhubungan, yakni foodies creator dan KIRI PROJECT. Satu ruang memberinya kesempatan untuk bercerita tentang makanan, tempat, perjalanan, dan lifestyle. Ruang lainnya membuka kesempatan bagi creator dan pelaku usaha untuk bertemu dan membangun kolaborasi. Perjalanan tersebut masih terus berjalan. Peran boleh berubah, pekerjaan dapat berganti, dan lingkungan bisa berpindah, tetapi rasa ingin tahu yang sejak kecil melekat pada diri Derini tetap menjadi bagian penting dari langkahnya. Dari dapur rumahan hingga layar ponsel, Dede Rini Sulastri terus menemukan cara baru untuk bertumbuh. Kali ini, pengalaman yang dikumpulkannya bukan hanya menjadi cerita miliknya sendiri, tetapi juga menjadi bekal untuk membuka ruang bagi orang lain agar dapat berkembang bersama.







