JAKARTA, MEDIA WANITA – Di tengah riuh rendahnya panggung politik Indonesia yang sering kali identik dengan pertunjukan kemewahan dan perebutan validasi publik, muncul sebuah oase yang menyejukkan. Namanya Danik Eka Rahmaningtiyas, politisi Partai Solidaritas Indonesia.
Perempuan kelahiran 1987 yang aktif sebagai politisi muda ini membawa warna baru. Jika banyak orang melihat panggung politik sebagai ruang untuk mengakumulasi kekuasaan dan materi, bagi Danik, politik justru menjadi ruang ujian terbesar untuk mempraktikkan sebuah komitmen hidup: menjadi minimalist.
Melalui tulisan ini, kita akan mengulik bagaimana filosofi hidup minimalis bukan sekadar tren merapikan barang estetis ala pinterest, melainkan sebuah mindset politik yang mendalam.
Bagi sebagian besar perempuan modern, kata “minimalis” mungkin langsung mengasosiasikan kita pada metode decluttering Marie Kondo atau interior rumah bernuansa monokrom. Namun, jika Anda mengintip media sosial dan esai reflektif Danik, Anda akan menemukan bahwa minimalisme yang ia hidupi menembus batas kepemilikan barang.
Bagi Danik, minimalisme adalah komitmen hidup dengan penuh kesadaran (mindfulness). Fondasinya berdiri di atas tiga pilar utama: Cukup, Syukur, dan Optimalisasi.
“Minimalisme itu bukan soal seberapa kosong lemarimu, tapi seberapa merdeka pikiranmu dari jebakan validasi orang lain.” Kata Danik.
Dalam lanskap psikologi, apa yang diperjuangkan Danik sejalan dengan konsep Subjective Well-Being (kesejahteraan subjektif). Orang yang mengejar materi dan validasi eksternal tanpa batas justru tingkat kebahagiaannya menurun. Kebahagiaan sejati justru lahir saat seseorang mampu mendefinisikan rasa “cukup” dalam dirinya sendiri.
Mengapa seorang politisi wajib memiliki mindset minimalis? Pertanyaan ini dijawab Danik melalui kesehariannya. Baginya, ketidakmampuan mengendalikan hasrat pribadi adalah akar dari kerusakan yang lebih besar di ranah publik.
“Bagi seorang politisi, wajib hukumnya memiliki mindset kapan harus merasa cukup. Ketika tidak tahu kapan harus berhenti mengonsumsi materi, saat memegang kuasa tanpa sadar akan mudah mengonsumsi hak-hak orang lain.” Jelas Danik.
Dunia politik sangat rentan terhadap over consumption, bukan hanya konsumsi barang mewah, melainkan konsumsi kekuasaan. Ketika seorang pejabat tidak memiliki rem internal untuk berkata “cukup”, dorongan untuk mempertahankan jabatan dengan segala cara akan muncul. Ketamakan inilah yang pada akhirnya berujung pada eksploitasi sumber daya alam secara ugal-ugalan dan pengabaian hak-hak rakyat demi melanggengkan kekuasaan tanpa batas.
Sebagai pegiat isu kesehatan mental dan mindful living, Danik melihat adanya benang merah yang kuat antara keserakahan politik dengan eco-anxiety (kecemasan lingkungan) yang kini banyak melanda generasi muda.
“Eksploitasi bumi dan keserakahan kekuasaan itu lahir dari rahim yang sama: jiwa yang selalu merasa kurang. Politik minimalis adalah tentang bagaimana kita mengerem diri demi kelangsungan hidup generasi nanti.” Ungkap Danik.
Sebagai perempuan yang aktif di ranah publik, Danik paham betul betapa kuatnya tekanan sosial untuk selalu tampil “sempurna” demi mendapat pengakuan. Di era media sosial saat ini, jebakan untuk membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan hanya demi memukau orang-orang yang bahkan tidak kita kenal sangatlah nyata.
Namun, alih-alih ikut dalam pusaran kompetisi pamer tersebut, Danik memilih jalan sunyi yang merdeka. Ia memilih tidak menyandarkan harga dirinya pada validasi luar.
“Jangan habiskan energi kita untuk membeli barang yang tidak kita butuhkan, hanya untuk mengesankan orang yang tidak kita sukai. Simpan energi itu untuk melahirkan karya.” Tegas Danik.
Dengan menyederhanakan kepemilikan materi dan fokus pada apa yang benar-benar esensial, ia memiliki lebih banyak energi dan ruang mental untuk memikirkan isu-isu yang lebih besar dan dibutuhkan masyarakat.
Gaya hidup minimalis mengajarkan kita satu hal penting: kita tidak bisa menjaga kewarasan mental dan kelestarian bumi jika kita terus-menerus didikte oleh rasa kekurangan.
Pada akhirnya, hidup minimalis ini adalah sebuah bentuk kemerdekaan diri. “Selesai dengan diri sendiri adalah kunci. Ketika kita sudah merasa cukup, bersyukur dan mengoptimalkan yang sudah dimiliki, barulah kita bisa tulus mengurus kepentingan orang banyak.” Pungkas Danik.
Ketika kita mampu mengendalikan keinginan, kita tidak hanya menyelamatkan kesehatan mental diri sendiri, tetapi juga sedang menjaga ruang hidup yang lebih adil bagi sesama. Karena menjadi berdaya, tidak selalu harus dengan cara menjadi berlebihan.
Bagaimana caramu mendefinisikan rasa “cukup” dalam kehidupan sehari-hari? Yuk, tulis di kolom komentar!







