Kota Bima – Pasar tradisional acapkali diidentikkan sebagai dunianya perempuan. Di sanalah para ibu penggerak ekonomi keluarga menggelar dagangannya, dan di sana pula para istri serta ibu rumah tangga memilih bahan baku demi gizi anak-anak di rumah. Menyadari besarnya peran perempuan dalam rantai pangan ini, Anggota putri Satuan Karya Pramuka Pengawasan Obat dan Makanan (Saka POM) Kota Bima mengambil peran lini terdepan dalam aksi sosial di Pasar Amahami.
Pada Kamis (9/7/2026), bersama petugas Balai POM di Bima, para Anggota Saka POM Putri ini turun langsung ke jantung pasar. Kehadiran mereka membawa misi penting: mengedukasi sesama kaum perempuan mengenai keamanan obat dan makanan melalui pendekatan yang hangat, setara, dan penuh empati. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas, sebuah program unggulan nasional milik Badan POM.
Ada pemandangan berbeda dalam sosialisasi kali ini. Alih-alih terkesan formal dan kaku, para Anggota Saka POM Putri memanfaatkan naluri keibuan dan persaudaraan sesama perempuan saat mendekati komunitas pasar. Mengenakan seragam Pramuka lengkap, mereka menyusuri lorong pasar dan duduk berdampingan dengan para pedagang perempuan yang sedang menanti pembeli.

Mereka menyadari bahwa mengedukasi perempuan pedagang membutuhkan cara yang persuasif. Dengan bahasa daerah yang santun dan akrab, para remaja putri ini mendengarkan keluh kesah pedagang terlebih dahulu sebelum pelan-pelan menyisipkan edukasi. Langkah ini terbukti efektif menurunkan resistensi, sehingga pesan mengenai bahaya bahan kimia seperti boraks, formalin, serta pewarna tekstil (Rhodamin B dan Methanyl Yellow) dapat diterima dengan baik tanpa membuat pedagang merasa dihakimi.
Tujuan besar dari keterlibatan aktif Saka POM Putri ini adalah membangun kemandirian dan pemberdayaan perempuan di pasar. Ketika seorang ibu pedagang paham cara menyortir pangan aman, ia sedang melindungi usahanya sekaligus konsumennya. Begitupun ketika seorang ibu pembeli menjadi cerdas, ia tengah membentengi keluarganya dari ancaman penyakit.
Selain isu pangan, fokus utama yang digerakkan oleh Saka POM Putri dalam aksi ini adalah menyuarakan kewaspadaan terhadap penggunaan “obat setelan” dan penyalahgunaan obat-obat tertentu (OOT). Di lingkungan masyarakat, kaum perempuan—khususnya yang bekerja keras sebagai pedagang pasar atau ibu rumah tangga—sering kali menjadi target utama peredaran obat setelan yang diklaim instan menyembuhkan pegal linu, nyeri sendi, atau asam urat.
Dengan penuh ketelatenan, Anggota Saka POM Putri membeberkan fakta medis di balik kapsul warna-warni yang kerap dijual tanpa resep tersebut. Mereka menjelaskan bahwa obat setelan yang dikonsumsi sembarangan justru berisiko merusak ginjal dan hati, serta sering kali mengandung obat keras yang membahayakan tubuh dalam jangka panjang.
“Kami ingin kakak-kakak dan ibu-ibu di sini sehatnya asli, bukan sehat palsu karena efek obat keras yang diracik sembarangan. Kalau ibunya sakit, kasihan anak-anak dan keluarga di rumah,” ujar salah satu anggota Saka POM Putri, Tazkiatul Zahra saat memberikan penjelasan kepada seorang pedagang sayur.
Sembari mengobrol dan bertukar cerita, para srikandi muda Saka POM ini juga membagikan leaflet atau brosur edukasi yang dikemas menarik. Brosur ini sengaja diberikan agar para perempuan di Pasar Amahami memiliki panduan tertulis yang bisa dibawa pulang dan dibagikan kepada keluarga atau tetangga mereka.
Salah satu tips praktis yang paling ditekankan oleh Saka POM Putri adalah formula “Cek KLIK” sebelum membeli produk obat dan makanan olahan:
· Cek Kemasan: Memastikan wadah atau bungkus produk dalam kondisi baik, tidak penyok atau bocor.
· Cek Label: Membaca informasi produk dengan teliti.
· Cek Izin Edar: Memastikan produk memiliki nomor registrasi resmi dari Badan POM.
· Cek Kedaluwarsa: Memastikan produk belum melewati batas tanggal aman penggunaan.
Melalui aksi nyata yang digerakkan oleh Anggota Saka POM Putri ini, sosialisasi tidak lagi terasa sebagai instruksi satu arah dari petugas Balai POM, melainkan sebuah gerakan saling menjaga antarsesama perempuan. Dedikasi para remaja putri ini membuktikan bahwa perlindungan kesehatan keluarga bisa dimulai dari langkah kecil di sudut-sudut pasar tradisional.


