• Hubungi Redaksi
Kirim Tulisan
Akun Saya
Logout
Media Wanita
Kirim Tulisan
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Media Wanita
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Media Wanita
No Result
View All Result
Home Ragam

Srikandi Lingkungan dan Kelompok Rentan Bersatu, Yayasan Kiblat Gandeng Perempuan Inspiratif Berdayakan Disabilitas Sukoharjo Lewat Pengelolaan Limbah

Wanita Harmoni Indonesia by Wanita Harmoni Indonesia
31 May 2026
in Ragam
A A
0
851
SHARES
1.2k
VIEWS

SUKOHARJO, 24 Mei 2026 – Isu perubahan iklim kerap memberikan dampak yang paling berat bagi kelompok rentan. Namun, sebuah narasi yang berbeda dan inspiratif tengah diukir di Kabupaten Sukoharjo. Pada Sabtu (23/5/2026), Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI) sukses menggelar “Workshop Pengumpulan dan Pemilahan Limbah Kertas” di Sanggar Inklusi Permata Hati, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, dengan menempatkan perempuan dan kelompok disabilitas sebagai garda terdepan pelestarian lingkungan.

Agenda ini merupakan pijakan awal dari program inklusif bertajuk “Pemanfaatan Limbah Kertas Menjadi Topeng Wayang Bernilai Ekonomi bagi Pemuda Disabilitas di Kabupaten Sukoharjo”. Langkah nyata yang memadukan ekologi, kesetaraan gender, dan pemberdayaan ekonomi ini mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, melalui inisiatif Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4.

Guna memastikan program ini berjalan dengan empati dan presisi tinggi, YAKABI menghadirkan sosok srikandi lingkungan, Dwi Indra Wati, Founder Bank Sampah Warjinem Suruh Kalang, sebagai pakar sekaligus instruktur. Di hadapan seratus pemuda disabilitas, ia membagikan ilmu klasifikasi serat kertas dan teknik purifikasi limbah dari material pengotor dengan penuh keibuan dan kesabaran.

Kirim Tulisan

“Perempuan dan kelompok disabilitas kerap dipandang sebelah mata dalam sektor industri. Padahal, kita memiliki satu kesamaan kekuatan utama: ketelitian dan keuletan. Memilah limbah kertas adalah fondasi utama ekonomi sirkular yang membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi. Hari ini, saya sangat terharu melihat bagaimana teman-teman disabilitas mampu menyortir limbah dengan sangat rapi dan presisi. Di tangan mereka, sampah yang kotor berubah menjadi lembaran harapan,” ungkap Dwi Indra Wati.

Terciptanya ekosistem belajar yang suportif ini tidak lepas dari sentuhan tangan dingin tokoh perempuan lokal, Listri Sedyaningsih, selaku Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati. Ia memastikan fasilitas sanggar menjadi ruang aman (safe space) yang ramah dan memberdayakan bagi seluruh peserta.

“Sebagai seorang ibu dan pendamping, kebahagiaan terbesar saya adalah melihat anak-anak istimewa ini diberikan ruang untuk berdaya. Program ini tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari tumpukan sampah, tetapi juga menyelamatkan kepercayaan diri anak-anak kami. Mereka membuktikan bahwa kelompok rentan pun bisa memberikan kontribusi nyata bagi bumi dan mandiri secara ekonomi,” tutur Listri penuh haru.

Dukungan perempuan tidak berhenti di situ. Keberhasilan mobilitas dan kondusivitas acara juga tak luput dari peran aktif tokoh pemudi setempat, Ganing Widarwati, yang memimpin koordinasi relawan pemuda Desa Jatisobo, bersinergi bahu-membahu melayani kebutuhan mobilitas peserta disabilitas selama pelatihan berlangsung.

Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menegaskan bahwa pelibatan perempuan dan penyandang disabilitas adalah roh utama dari program ini.

“Gerakan ekologi tidak akan mencapai titik puncaknya jika meninggalkan kelompok rentan. Melalui dukungan BPDLH Kemenhut RI ini, YAKABI ingin mematahkan stigma. Kami merangkul kepakaran para tokoh perempuan dan ketangguhan kawan-kawan disabilitas untuk memimpin transisi ekonomi hijau di Sukoharjo. Ini adalah bukti nyata bahwa inklusivitas adalah kunci bagi pelestarian bumi yang berkelanjutan,” urai Fadhel.

Usai menguasai standardisasi pemilahan limbah secara mandiri, seratus pemuda disabilitas ini akan bersiap melangkah ke tahap selanjutnya. Limbah yang telah mereka seleksi akan diolah dan dicetak menjadi mahakarya topeng wayang bernilai jual tinggi pada lokakarya produksi pekan depan, membuktikan bahwa karya dari kelompok rentan layak diperhitungkan di kancah nasional.

    Tags: Yayasan Kiblat Gandeng
    Share340Tweet213Share60Pin77SendShare
    Kirim Tulisan
    Wanita Harmoni Indonesia

    Wanita Harmoni Indonesia

    Please login to join discussion
    Media Wanita

    Media Wanita menghadirkan berbagai informasi terbaru dan terpercaya tentang Wanita

    Follow Us

    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Cyber
    • Syarat & Ketentuan Tulisan
    • Syarat dan Ketentuan
    • Disclaimer
    • Hubungi Kami

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Gaya Hidup dan Hiburan
    • Kesehatan dan Kecantikan
    • Inspirasi
    • Kirim Tulisan
      • login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita