Kesehatan mental tak hanya ditentukan kemampuan seseorang menghadapi tekanan. Kebijakan pemerintah, ketidakpastian politik, dan beban ekonomi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Ketua Ruang Sebaya Nawwal Gatrinnada mengangkat persoalan ini dalam kegiatan “Bersatulah Orang Muda“.
“Mental Health is Political!” tegas Nawwal dalam kegiatan yang berlangsung di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Selasa (3/11/2026), pukul 14.00 WIB.
Dalam pemaparannya, Nawwal menyoroti hubungan antara kebijakan publik dan kondisi psikologis masyarakat. Ia mengangkat survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang menyebutkan 75 persen responden mengalami stres akibat kebijakan pemerintah. Temuan tersebut menyoroti pentingnya mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap kehidupan masyarakat. Rincian survei perlu dipastikan sebelum angka tersebut dipublikasikan.
“Kesehatan mental tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan individu. Kondisi sosial, politik, dan ekonomi juga ikut memengaruhi tekanan yang dialami masyarakat,” ujar Nawwal.
Tekanan psikologis dapat muncul melalui kecemasan terhadap situasi politik, kebijakan yang tidak konsisten, bencana alam, hingga kebakaran hutan dan lahan. Pelemahan rupiah dan kenaikan harga kebutuhan pokok juga berpotensi menambah beban finansial masyarakat.
“Ketika situasi politik menimbulkan kecemasan dan kebutuhan hidup semakin mahal, tekanan yang dirasakan masyarakat bukan lagi sekadar persoalan pribadi. Ada kondisi yang lebih luas yang perlu diperhatikan,” katanya.
Nawwal turut memaparkan teori ekologi Bronfenbrenner untuk menjelaskan bagaimana kondisi individu dipengaruhi berbagai lapisan lingkungan, mulai dari keluarga dan tempat kerja hingga keadaan ekonomi, nilai sosial, dan kebijakan pemerintah. Perspektif ini menegaskan bahwa kesehatan mental tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat seseorang menjalani kehidupannya.
Dalam konteks tersebut, Ruang Sebaya menjadi ruang untuk membangun dukungan antarsesama dan memperkuat kesejahteraan kolektif. Solidaritas diperlukan agar individu tidak menghadapi tekanan sendirian, sekaligus mendorong perhatian terhadap kondisi sosial yang memengaruhi kesehatan mental.
Nawwal menutup pemaparannya dengan seruan untuk melawan ketidakadilan struktural dan stigma yang menghambat kesejahteraan bersama.
“Maka dari itu, kita akan LAWAN! Melawan ketidakadilan struktural, melawan stigma terhadap kesehatan mental, dan melawan segala kondisi yang menghambat terwujudnya kesejahteraan kolektif,” tegasnya.









