• Hubungi Redaksi
Kirim Tulisan
Akun Saya
Logout
Media Wanita
Kirim Tulisan
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
Media Wanita
  • Berita Utama
  • Gaya Hidup dan Hiburan
  • Kesehatan dan Kecantikan
  • Inspirasi
  • Kirim Tulisan
    • login
    • Akun Saya
    • Tulisan Saya
    • Logout
No Result
View All Result
Media Wanita
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Psikiater Mintarsih Menyebut Kebiasaan Gus Miftah Menghujat Bisa Dipengaruhi Lingkungan

Redaksi by Redaksi
10 December 2024
in Berita Utama
A A
0
854
SHARES
1.2k
VIEWS

Jakarta – Psikiater Mintarsih memberikan pandangannya terkait kontroversi yang melibatkan Gus Miftah, setelah video dirinya menghujat seorang pedagang es dan pesinden Yati viral di media sosial. Dalam video tersebut, aksi Gus Miftah yang dianggap sebagai candaan menuai kecaman dari netizen.

“Kalau dilihat dari video itu, sepertinya sudah jadi kebiasaan. Mungkin bagi dia lucu, tapi bagi orang yang diledek tidak. Efeknya pada orang yang diledek juga tidak dilihat,” kata Mintarsih.

Kebiasaan yang Dipengaruhi Lingkungan

Mintarsih menilai perilaku Gus Miftah bisa jadi merupakan kebiasaan yang terbentuk oleh lingkungannya. “Itu jelas suatu kebiasaan dari dirinya. Mungkin itu dikembangkan dan didukung oleh lingkungan sekitar yang ikut tertawa. Tapi ketika orang di sekitarnya menganggap itu lelucon, Gus itu cenderung melihatnya sebagai hal yang normal, meski sebenarnya sudah menjadi bentuk kekerasan,” jelasnya.

Apakah Kebiasaan Ini Bisa Berubah?

Terkait kemungkinan perubahan sikap, Mintarsih optimistis bahwa kecaman dari publik bisa menjadi momen refleksi bagi Gus Miftah.

Kirim Tulisan

“Melihat dia mendapat kecaman netizen, saya pikir itu akan merubah sikapnya. Dia akan lebih berhati-hati ke depannya. Dengan adanya kecaman, situasinya tentu berbeda,” tambah Mintarsih.

Dampak pada Korban Ejekan

Mintarsih juga menyoroti dampak psikologis bagi korban ejekan. “Untuk orang yang diejek, kita perlu melihat sifat mereka. Jika dia orang yang perasa, kemungkinan besar dia tidak bisa berbuat apa-apa dan akan merasa tersakiti. Tapi jika dia orang yang tegar, dia akan menganggap itu sebagai risiko pekerjaan,” katanya.

Kontroversi ini menjadi sorotan banyak pihak, termasuk para pemerhati psikologi, yang menilai pentingnya memahami dampak psikologis dari candaan yang berlebihan. Kejadian ini diharapkan dapat menjadi pelajaran untuk semua pihak agar lebih bijak dalam bertindak, terutama di ruang publik.

    Share342Tweet214Share60Pin77SendShare
    Kirim Tulisan
    Redaksi

    Redaksi

    Please login to join discussion
    Media Wanita

    Media Wanita menghadirkan berbagai informasi terbaru dan terpercaya tentang Wanita

    Follow Us

    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Cyber
    • Syarat & Ketentuan Tulisan
    • Syarat dan Ketentuan
    • Disclaimer
    • Hubungi Kami

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita

    No Result
    View All Result
    • Berita Utama
    • Gaya Hidup dan Hiburan
    • Kesehatan dan Kecantikan
    • Inspirasi
    • Kirim Tulisan
      • login
      • Akun Saya
      • Tulisan Saya
      • Logout
    • Login

    © 2023 Media Wanita - Informasi dan Berita Khusus Wanita