SOLO – Di tengah arus modernisasi yang melaju pesat, krisis jati diri dan degradasi kesehatan mental kian rentan menghinggapi generasi muda. Merespons fenomena yang menusuk nurani tersebut, sosok akademisi dan psikolog perempuan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rin Widya Agustin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengambil langkah progresif yang memadukan ketajaman ilmu psikologi dengan kelembutan pendekatan spiritual. Pada Jumat, 06 November 2026, ia memfasilitasi kegiatan outing class mata kuliah Filsafat Umum dengan membawa mahasiswa semester 1 Psikologi UNS ke kawasan bersejarah Punthuk Segaran, Taman Sriwedari, Solo.
Sebagai seorang pendidik perempuan, Rin Widya Agustin sangat menyadari bahwa falsafah hidup dan empati tidak bisa sekadar diajarkan melalui diktat teoretis di dalam ruang kelas. Dibutuhkan ruang yang memfasilitasi pengalaman langsung agar nilai-nilai tersebut dapat dihayati dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Oleh karena itu, ia merancang kegiatan ini sebagai ritual wellness (kesejahteraan holistik) untuk mengantarkan para mahasiswa mengenal secara langsung pola kesadaran murni melalui rangkaian ritual spiritual-transpersonal.
Guna memperkaya kedalaman perspektif budaya dan ekologi dalam kegiatan ini, program studi Psikologi UNS menggandeng tokoh budayawan lokal yang berdedikasi tinggi. Dalam hal ini, hadir Rus Hardjanto atau Ki Jantit Sanakala selaku Ketua Omah Topeng Langdhawur dan inisiator Wayang Keong atau Wayang Limbah Kertas yang terlibat penuh sebagai mitra kolaborator sekaligus narasumber utama. Sinergi antara kepekaan psikologis dari seorang akademisi perempuan dan kearifan ekologis dari sang seniman mampu menciptakan ruang belajar yang transformatif bagi ratusan mahasiswa.
Prosesi pembelajaran yang sarat akan makna ini diawali dari pelataran patung Ronggowarsito di depan Museum Radya Pustaka. Di bawah arahan kolaboratif ini, para mahasiswa diinstruksikan untuk duduk bersila. Postur sederhana ini merupakan sebentuk afirmasi kerendahan hati untuk merenungkan hakikat diri manusia yang sejatinya adalah energi, sekaligus menyadari riuhnya pertentangan dualisme di dalam pikiran sendiri yang kerap menjadi sumber gangguan mental. Di lokasi tersebut, keberadaan dua pohon beringin besar turut dimaknai sebagai simbol karakter dasar materi dan konflik kehidupan.
Dengan diiringi lantunan Tembang Singgah-singgah dari Ki Jantit Sanakala, Rin membersamai anak-anak didiknya dalam sebuah perjalanan bisu menuju dan mengelilingi Punthuk Segaran. Bukit yang dibangun pada era Pakubuwono X ini merupakan sebuah mandala atau simbol holistik kosmologi Jawa yang menyimpan ajaran luhur tentang pola kesadaran tertinggi. Di sinilah sentuhan empati ala keibuan diuji dan dilatih dalam praktik nyata. Ketika barisan mahasiswa yang panjang berhadapan dengan sempitnya lanskap bukit, situasi macet tak terhindarkan.
Dalam pergerakan tanpa suara, para mahasiswa yang berasal dari Generasi Z ini belajar untuk menekan ego. Melalui isyarat dan kepekaan rasa, mereka dituntut untuk saling memberikan akses, membantu rekan yang kesulitan, dan tidak memonopoli jalan. Pengaturan bersama dalam diam ini berlanjut hingga ke puncak bukit, di mana mereka harus berbagi ruang untuk duduk lesehan, baik di bawah terik matahari maupun naungan pohon, tanpa menghalangi pihak yang bertugas mendokumentasikan acara.
Ki Jantit Sanakala menegaskan bahwa keberhasilan melampaui ego dan memberikan ruang bagi orang lain inilah yang disebut sebagai kesadaran transpersonal. “Tidak melulu mengurusi diri sendiri, sebaliknya mengurusi orang lain dan sosial-lingkungan dan semesta,” ungkap Ki Jantit saat memaparkan kata kunci harmoni global. Pemusatan perhatian di puncak mandala ini disimbolkan sebagai wujud kembali kepada suara nurani dan kasih murni, yang dicapai melalui praktik wening atau mengheningkan cipta.
Bagi Rin Widya Agustin, merajut kesadaran empati dari dalam diri para mahasiswa adalah fondasi utama bagi pembentukan karakter bangsa. Lebih jauh lagi, model pemahaman kosmologi dan etika sosial yang diajarkan oleh akademisi perempuan ini nyatanya juga telah diimplementasikan dalam skala yang lebih luas. Hal ini terbukti dari keberhasilan Revitalisasi Pasar Tradisional Gagan Donohudan Tunggal Jati yang berkesejahteraan bersama dan berkeadilan sosial (Ambeg Adil Paramatma). Lewat kerja sama pemanfaatan HAKI antara Indigenous Psikologi Fakultas Psikologi UNS dengan PT Putri Parawansa Group sejak 2022, peradaban pasar tradisional perlahan ditata ulang.
Langkah Rin Widya Agustin membuktikan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam memulihkan kondisi psikologis generasi muda di tengah krisis. Melalui sentuhan keibuannya di dunia akademik, warisan leluhur di Punthuk Segaran tak sekadar menjadi tumpukan sejarah bisu, melainkan hidup kembali sebagai wisata spiritual dan oase wellness yang siap menyembuhkan luka-luka batin masyarakat modern.









