Jakarta — Langkah kaki yang menyusuri ruas Jalan Jenderal Sudirman hingga Bundaran HI, Ahad (28/6/2026), menjadi lebih dari sekadar aktivitas olahraga. Melalui Jalan Santai Bersama Ibu, Pengurus Pusat Majelis Alumni (PP MA) IPPNU menghadirkan ruang perjumpaan bagi perempuan lintas generasi untuk merawat kepedulian, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan penghormatan kepada sosok ibu.
Kegiatan tersebut dihadiri kader dan alumni IPPNU, aktivis perempuan dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani), serta sejumlah pemeran film Jangan Buang Ibu, di antaranya Nirina Zubir dan Mpok Ati. Kehadiran berbagai unsur itu memperlihatkan bahwa perhatian terhadap perempuan dan keluarga merupakan tanggung jawab bersama yang melampaui batas organisasi.
Ketua PP MA IPPNU Prof. Dr. Hj. Siti Nur Azizah Ma’ruf, M.Hum., Ph.D. (HC) mengatakan, organisasi yang dipimpinnya berkomitmen untuk terus membersamai berbagai gerakan yang memberi manfaat bagi perempuan.
“Majelis Alumni IPPNU akan senantiasa membersamai kegiatan-kegiatan yang berpihak kepada ibu dan perempuan serta bergerak untuk kemaslahatan perempuan,” ujarnya.
Menurut Prof. Siti, kepedulian terhadap perempuan tidak cukup diwujudkan melalui wacana. Ia harus hadir dalam ruang-ruang yang mempertemukan banyak pihak untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring pengabdian.
Selain jalan santai, peserta mengikuti berbagai aktivitas, mulai dari layanan pemeriksaan kesehatan, hiburan, pembagian doorprize, hingga menuliskan pesan dan doa untuk ibu melalui papan harapan. Bagi banyak peserta, momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa kasih sayang seorang ibu adalah fondasi yang membentuk keluarga sekaligus masyarakat.
Ketua PW IPPNU DKI Jakarta Fithri Farhana mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berkesan bagi kader muda.
“Terima kasih kepada MA IPPNU yang telah memberikan kader IPPNU DKI Jakarta kesempatan untuk mengikuti kegiatan Jalan Santai Bersama Ibu ini secara gratis dengan berbagai benefit yang disediakan. Kegiatan ini bukan hanya menjadi momen olahraga bersama dan ajang silaturahmi yang hangat antara alumni dan kader IPPNU, tetapi juga menghadirkan pesan yang begitu bermakna melalui papan harapan yang berisi pesan dari anak untuk ibunya,” kata Fithri.
Baginya, ruang seperti ini memperlihatkan bahwa gerakan perempuan tidak selalu lahir dari forum resmi. Ia tumbuh dari perjumpaan, saling mendengar, dan kesediaan untuk berjalan bersama memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, langkah-langkah yang ditempuh bersama pagi itu menjadi pengingat bahwa perempuan selalu memiliki ruang untuk saling menguatkan. Dan dari ruang-ruang kebersamaan yang sederhana, lahir harapan agar kepedulian kepada ibu, perempuan, dan keluarga terus hidup dalam gerakan yang nyata.(*)

