“Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup.”
Kutipan dari cerpen Sang Primadona karya A. Mustofa Bisri tersebut tampak sederhana. Tokoh “aku” berusaha menghibur dirinya setelah pendidikan tinggi yang diimpikannya tidak dapat dilanjutkan. Ia meyakinkan diri bahwa kuliah hanyalah jalan menuju materi, dan karena kini ia telah menjadi seorang “superbintang”, maka kegagalan akademik tidak lagi penting.
Namun, di balik kalimat itu tersimpan kegelisahan yang jauh lebih dalam. Tokoh tersebut sebenarnya sedang melakukan negosiasi dengan dirinya sendiri. Ia mencoba menutupi kehilangan sebuah cita-cita dengan keberhasilan yang lain. Kesuksesan finansial menjadi obat bagi luka yang ditinggalkan oleh impian yang tidak tercapai.
Fenomena semacam ini terasa sangat dekat dengan kehidupan Generasi Z saat ini. Di era media sosial, ukuran kesuksesan sering kali bergeser dari proses menuju hasil. Banyak anak muda melihat figur-figur yang memperoleh popularitas, penghasilan besar, dan pengakuan publik tanpa melalui jalur pendidikan formal yang panjang. Profesi sebagai kreator konten, influencer, streamer, atau selebritas digital menghadirkan gambaran bahwa ketenaran dapat menjadi jalan pintas menuju kehidupan mapan.
Media sosial bahkan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap cara Generasi Z memandang karier dan masa depan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial turut memengaruhi preferensi karier dan pengambilan keputusan karier generasi muda. Dalam ruang digital, seseorang dapat melihat pencapaian orang lain setiap hari: jumlah pengikut, pendapatan, gaya hidup, hingga berbagai simbol kesuksesan yang dipamerkan secara terus-menerus.
Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang mulai bertanya: untuk apa kuliah bertahun-tahun jika ada orang yang bisa sukses lebih cepat? Pertanyaan ini sebenarnya mirip dengan cara berpikir tokoh dalam Sang Primadona. Pendidikan dipandang hanya sebagai alat untuk memperoleh materi. Ketika materi sudah didapatkan melalui jalan lain, pendidikan dianggap kehilangan nilai pentingnya.
Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Pendidikan tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga membentuk cara berpikir, kemampuan menganalisis masalah, dan kedewasaan dalam mengambil keputusan. Kesuksesan ekonomi dapat datang lebih cepat, tetapi kapasitas intelektual dan kedalaman wawasan tetap membutuhkan proses yang panjang.
Menariknya, cerpen Sang Primadona seakan mengingatkan bahwa keberhasilan materi belum tentu mampu menghapus sepenuhnya rasa kehilangan terhadap cita-cita yang pernah dimiliki. Tokoh “aku” memang telah menjadi “superbintang”, tetapi kalimat yang ia ucapkan terdengar seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Semakin keras seseorang membenarkan pilihannya, kadang justru semakin terlihat keraguan yang ia sembunyikan.
Kondisi ini juga dapat ditemukan pada sebagian Generasi Z. Di satu sisi, mereka hidup dalam budaya personal branding yang sangat kuat. Penampilan, pencapaian, dan pengakuan publik menjadi bagian penting dari identitas di media sosial. Penelitian mengenai perilaku Generasi Z di Indonesia menunjukkan bahwa praktik personal branding dan “flexing” sering kali membentuk standar kesuksesan tertentu yang kemudian memengaruhi cara anak muda memandang diri mereka sendiri.
Melalui Sang Primadona, Gus Mus mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali makna sukses. Apakah sukses hanya tentang materi dan popularitas? Ataukah sukses juga mencakup kemampuan untuk tetap setia pada cita-cita, proses belajar, dan pengembangan diri?
Bagi Generasi Z, pertanyaan ini menjadi semakin relevan. Di tengah derasnya arus konten yang menjanjikan ketenaran instan, cerpen Sang Primadona mengingatkan bahwa keberhasilan yang tampak di luar belum tentu mampu mengisi seluruh kebutuhan batin seseorang. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan pengakuan dan materi, tetapi juga makna atas perjalanan hidup yang ia pilih.

