ACEH SINGKIL — Udara subuh pesisir barat selatan Aceh masih terasa menusuk tulang, namun Nisa (20) sudah berdiri di tepi sungai berair keruh. Sementara gadis-gadis seusianya mungkin masih tertidur lelap, Nisa bersiap merendam tubuhnya ke dalam air payau. Tujuannya hanya satu: mencari lokan demi menyambung mimpi duduk di bangku perguruan tinggi.
Kisah Nisa bukanlah cerita fiksi layar kaca, melainkan potret nyata kerasnya perjuangan perempuan muda Singkil dalam mendobrak batas kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Bertaruh Nyawa di Dasar Sungai
Lahir dari keluarga nelayan kecil dan pembuat kue tradisional, Nisa sadar bahwa biaya pendaftaran kuliah dan uang saku tidak akan jatuh dari langit. Ia memilih banting tulang menjadi penyelam lokan (kerang sungai khas Singkil), pekerjaan kasar yang menuntut ketahanan fisik luar biasa.
Rutinitas Nisa setiap harinya sangat jauh dari gemerlap kehidupan remaja:
Pukul 05.00 WIB: Turun ke sungai, menyelam, dan meraba dasar lumpur yang tebal.
Risiko Harian: Menghadapi ancaman goresan cangkang tajam, gigitan lintah, hingga kewaspadaan ekstra terhadap buaya muara.
Pukul 13.00 WIB: Merebus dan mengupas daging kerang untuk disetor kepada pedagang sate lokan di pusat pasar Singkil.
Setiap Rupiah dari keringat bercampur lumpur itu tak pernah ia gunakan untuk bersenang-senang, melainkan langsung masuk ke dalam kaleng biskuit bekas—celengan masa depannya.
Tabel: Garis Waktu Perjuangan Nisa
Waktu / FaseAktivitas PerjuanganHasil / Tujuan
Pagi – SiangMenyelam dan mencari lokan di sungai Singkil.Mengumpulkan tabungan biaya pendaftaran.
Sore – Merebus, mengupas, dan menjual daging lokan.Setoran tunai harian ke pedagang pasar.
Malam – HariBelajar soal SNBT secara otodidak.Persiapan tes masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Pasca Lulus Bekerja ganda (buruh cuci) & merantau.Membayar UKT dan biaya hidup di Banda Aceh.
Buku Usang di Bawah Lampu Redup
Rasa lelah menyelam seharian sering kali membuat seluruh persendiannya ngilu. Namun, malam hari adalah waktu suci bagi Nisa. Dengan tangan yang kasar dan berkapalan, ia membuka buku-buku bekas latihan soal Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Di bawah cahaya lampu rumah panggungnya yang redup, ia tekun mempelajari penalaran matematika dan literasi. Tidak ada bimbingan belajar mahal, apalagi fasilitas internet cepat. Modalnya hanyalah tekad yang mengalahkan rasa kantuk.
”Lumpur Singkil boleh menempel di badanku hari ini, tapi besok, toga kebanggaan yang akan melekat di pundakku,” ujar Nisa saat mengenang kembali hari-hari beratnya.
Lulus PTN dan Ujian Baru
Kerja keras memang tidak pernah mengkhianati hasil. Tangis haru pecah di rumah panggung kecil itu saat nama Nisa dinyatakan LULUS di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terkemuka di Banda Aceh.
Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai: Membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya keberangkatan. Tabungan kaleng biskuitnya ternyata belum mencukupi.
Demi melihat sang anak merantau dengan kepala tegak, keluarga ini melakukan pengorbanan luar biasa:
Nisa mengambil kerja tambahan sebagai buruh cuci tetangga.
Sang Ibu merelakan sepasang anting emas seberat dua gram, sisa mas kawinnya, untuk dijual.
Sang Ayah meminjam modal dari toke (pengepul) ikan, dengan jaminan hasil pancingan selama setahun ke depan.
Pesan Tangguh dari Pesisir
Kini, Nisa telah berada di Banda Aceh. Ia merantau tidak dengan koper mahal, melainkan tas kain sederhana berisi buku, baju seadanya, serta bekal ikan salai (ikan asap) dan sate lokan dari ibunya. Di sela-sela jadwal kuliahnya, Nisa tetap bekerja paruh waktu mulai dari menjaga tempat fotokopi hingga menjadi guru les, agar tak lagi membebani orang tuanya.
Kisah Nisa dari tepian Sungai Singkil ini menampar kita dengan realitas yang menginspirasi. Ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah vonis mati bagi masa depan. Di balik lumpur sungai dan kerasnya cangkang lokan, lahir seorang perempuan tangguh yang siap mengubah sejarah keluarganya.

